Orasi Politik Perdana Presiden PKS Baru : Anis Matta
By pks kraton 21.54 Anis Matta , Qiyadah , Taujih , tsalasah
Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi robbil ‘alamin wabihi nasta’in wa ‘ala umuriddunya waddin, wahayyikum jami’an bitahiyyatin islam bil kholidah. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Para pimpinan PKS yang hadir pada siang hari ini, khususnya yang saya hormati, yang saya cintai, KH.Hilmi Aminuddin sebagai ketua Majelis Syuro. Saya pertama kali mengucapkan penghargaan sedalam-dalamnya kepada Ketua Majelis Syuro yang telah mengambil keputusan yang sangat kilat dan sangat cepat merespon usulan dan permohonan pengunduran diri Presiden kita semuanya yaitu Luthfi Hasan Ishaaq.
Saya juga ingin mengucapkan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada saudaraku, Luthfi Hasan Ishaaq. Kalau dia menonton acara ini, saya ingin mengatakan padanya, saya mencintainya. Dan seluruh pengurus, seluruh pemimpin PKS, seluruh kader PKS mencintai beliau. Kita juga percaya pada integritas beliau. Kita sepenuhnya tsiqoh. Tetapi yang dihadapi oleh PKS hari ini adalah sebuah konspirasi besar yang bertujuan ingin menghancurkan partai ini.
Dan menurut saya, peristiwa besar ini insya Allah akan menjadi hentakan sejarah yang akan membangunkan macan tidur PKS. Saya yakin Allah SWT mengirimkan sebuah isyarat besar kepada kita semuanya bahwa ini adalah momentum pembenahan diri sekaligus momentum kebangkitan PKS.
Rekan-rekan sekalian, tentu saja ini adalah tugas besar yang harus saya emban bersama seluruh pengurus PKS. Saya tahu ini bukan hari-hari yang mudah yang akan kita lalui. Tapi kita pasti bisa melaluinya, insya Allah. Kita pasti bisa melalui hari-hari sulit ini, asalkan kita mengetahui tiga syarat utama untuk melaluinya. Dan syarat utama untuk melalui hari-hari yang sulit ini ada 3.
Yang pertama adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT. “Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allahumma iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.
Syarat yang kedua ikhwah sekalian, adalah kebersamaan kita semuanya. Ukhuwah, persaudaraan, soliditas, itu yang harus kita jaga. Karena Allah SWT mengatakan “Huwalladzi ayyadaka binashrihi wabil mu’minin. Dialah Allah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman”. Kita pasti bisa melalui ini kalau kita saling bergandengan tangan. Kalau kita saling bersatu, kalau kita menyatukan diri kita semuanya atas nama cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada negeri kita, Indonesia.
Yang ketiga ikhwah sekalian saudara-saudaraku semuanya, syarat ketiga adalah kerja keras. Hari ini, saya ingin mengatakan kepada antum semuanya, kepada saudara semuanya, dan juga kepada seluruh kader-kader PKS yang menonton acara ini, saya ingin mengatakan kepda antum semuanya hari ini berlaku ayat Allah SWT “Tatajafa junubuhum ‘anil madhoji’, Lambung mereka tidak bersahabat dengan tempat tidur”. Tidak ada lagi waktu tidur sejak hari ini, saudara-saudara sekalian. Kita akan memulai hari ini, insya Allah, sebagai momentum kebangkitan kita semuanya.
Ikhwah sekalian, misi utama kita dalam periode permulaan kebangkitan ini adalah mengubah cobaan dan musibah ini menjadi rahmat dan karunia. Dan insya Allah kita pasti bisa memulainya, kita pasti bisa melakukannya. Karena pada permulaan kita mendirikan partai ini, kita juga tahu bahwa jumlah kita sedikit, tenaga kita sedikit, orang-orang kita sedikit. Tetapi melalui kerja keras, Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kesempatan pada partai ini untuk tumbuh dan terus-menerus berkembang.
Dan itu sebabnya, saya juga percaya bahwa insya Allah dengan pertolongan Allah dan dengan kebersamaan kita, tidak ada satupun kekuatan di negeri ini dan dunia ini yang bisa menghancurkan gerakan ini, insya Allah. Tidak akan ada, insya Allah.
Ikhwan sekalian, saya tidak ingin antum semua memahami disini bahwa kita semuanya adalah ingin melawan gerakan pemberantasan korupsi, sama sekali tidak. Itu adalah agenda kita semuanya. Agenda Islam dan juga agenda nasional. Yang akan kita lawan adalah penggunaan otoritas dalam pemberantasan korupsi itu yang bersifat tirani. Itu yang akan kita lawan.
Pemberantasan korupsi adalah agenda kita bersama, sekali lagi itu adalah agenda kita bersama. Tapi ulama-ulama fiqih mengatakan “Alhaqqu wastikhdamul haqq syai’ani yakhdalifa, Hak dan cara menggunakan hak adalah dua hal yang berbeda. Saya ulangi kembali, Hak dan cara menggunakan hak adalah dua hal yang berbeda”.
Cara menggunakan hak berhubungan langsung dengan hati. Karena itu Rasulullah SAW mengatakan “Istafti qolbak, Mintalah fatwa ke dalam hatimu, Mintalah fatwa ke dalam hatimu.” Karena, motif itu yang akan menentukan cara kita menggunakan hak. Dan motif tirani inilah yang ingin kita lawan, Insya Allah. Motif tirani dalam cara menggunakan hak inilah insya Allah yang akan kita lawan.
Seperti ikhwah sekalian, seperti yang saya katakan tadi, kalau kita ingin memulai perubahan yang hakiki, kita musti memulai dari diri kita sendiri. Kita pasti sebagai manusia biasa melakukan banyak sekali kesalahan. Terutama kami, saya secara pribadi, dan semua pimpinan PKS pasti menyadari bahwa kita sebagai manusia biasa pasti melakukan kesalahan.
Dan karena itu ikhwah sekalian, saya ingin akan mengumumkan juga pada kesempatan ini. Agenda pertama kita dalam melakukan perubahan yang hakiki ini adalah melakukan pertaubatan Nasional bagi seluruh pengurus dan kader-kader PKS. Kita akan memulai dari istighfar, kita akan memulai dari taubat.
Sebagaimana ucapan pertama yang kita ucapkan begitu kita selesai melakukan shalat. Apa yang kita ucapkan setelah kita selesai melakukan shalat? Astaghfirullah. Kita tentu sudah beramal. Tapi banyak kekurangan-kekurangan sepanjang amal-amal itu yang menyertai amal-amal kita. Dan istighfar ini insya Allah bukan hanya akan menghapus dosa-dosa, tetapi juga insya Allah akan menyempurnakan kerja-kerja kita ke depan.
Ikhwan sekalian, tapi Insya Allah kita setelah kita membenahi diri sendiri, membenahi diri kita semuanya, membenahi pikiran, membenahi hati, membenahi perilaku, dan membenahi seluruh sistem dalam organisasi kita ini, insya Allah kita akan melangkah lebih jauh lagi untuk melakukan pembenahan dan perbaikan pada negara. Dan karena itu, ikhwah sekalian, kita hanya bisa melakukan perbaikan pada skala negara itu kalau insya Allah kita memulainya dengan cara benar. Minhuna nabda, dari sinilah kita akan memulai insya Allah.
Kemarin kita menyaksikan saudara kita, Presiden kita, Luthfi Hasan Ishaaq, dikeluarkan dari ruangan ini dibawa ke tahanan. Dan Insya Allah, dari ruangan ini pula lah insya Allah kita akan memulai kerja besar baru untuk membenahi diri kita dan sekaligus membenahi negara kita semuanya. Dan saya yakin Insya Allah kita bisa, saya yakin Insya Allah kita bisa.
Saudara-saudara sekalian, mudah-mudahan Insya Allah, dengan kekuatan yang kita miliki insya Allah kita akan melampaui hari-hari yang sulit ini. Dan kita semuanya pasti akan berdoa agar Allah SWT meletakkan berkah di balik cobaan yang menimpa kita ini semuanya. Dan sekali lagi insya Allah, setelah acara ini, kita akan mulai melakukan langkah pertama nanti insya Allah, kita akan merancang satu acara untuk melakukan pertaubatan nasional bagi seluruh pimpinan dan juga bagi seluruh kader-kader PKS.
Selanjutnya, karena saya sadar bahwa saya akan melakukan tugas yang sangat besar, saya tidak ingin dalam proses pelaksanaan tugas ini terganggu dengan hal-hal lain yang bisa membuat tujuan ini tidak bisa tercapai. Oleh karena itu pada kesempatn ini juga, saya ingin mengumumkan pengunduran diri saya dari jabatan Wakil Ketua DPR RI dan juga mengundurkan diri dari keanggotaan saya di DPR RI.
Saya sudah memulai dan Insya Allah antum semua juga berjalan bersama-sama dengan kita insya Allah membawa kafilah perubahan yang hakiki di negeri ini, insya Allah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Keberjamaahan dalam berdakwah
By pks kraton 21.50 Media , Taujih
¨bÎ) ©!$# =Ïtä† šúïÏ%©!$# šcqè=ÏG»s)ム’Îû ¾Ï&Î#‹Î6y™ $yÿ|¹ Oßg¯Rr(x. Ö`»uŠ÷Yç/ ÒÉqß¹ö¨B ÇÍÈ
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Seperti kita ketahui bahwa didalam ayat tersebut islam mengajarkan pada kita untuk hidup berjamaah dan bekerjasama. Selain itu tentunya bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan. Dengan hidup berjamaah tentu menciptakan peleuang untuk beramal jama'i. Amal jama'i adalah merupakan suatu tuntutan harakah sesuatu yang sangat perlu untuk dipelajari dalam kehidupan kita. Tujuannya agar kita lebih bersemangat untuk mengumpulkan atau menyimpulkan visi dalam. Rangka sebuah kerangka persaudaraan dan saling tolong menolong antara yang satu dengan yang lain diantara kita ummat Islam. Oleh karena itu selama tujuan kita dalam amal jama'i seperti yang kita sebutkan tadi maka wajib bagi kita untuk mengamalkan/ merealisasikan masalah amal jama'i tersebut.
Dalam dakwah sangat diperlukan sebuah wadah yang juga sebagai sarana untuk beramal jama’i. Artinya dakwah juga membutuhkan sebuah jama’ah guna merealisasikan sebuah tujuan.
Dakwah diibaratkan sebagai sebuah bangunan. Bangunan tak akan berdiri dengan kukuh jika tak tersusun oleh tataan batu bata. Kitalah batu bata itu. Untuk mendukung wadah perjuangan dakwah maka jadikan diri kita batu bata yang unik dan khas yang memiliki kriteria istimewanya. Disinilah kemudian diperlukan sebuah amal jama'i
y`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã Ìs3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dikatakan dalam ayat tersebut 'umat' bukan orang atau kelompok. Artinya terkandung seruan amal jama'i yang diseru dilakukan oleh bukan atas nama perseorangan melainkan jamaah-jamaah dakwah yang ada untuk mewujudkan cita-cita Islam.
Keberadaan PKS merupakan manifestasi, representasi dan perwujudan sebuah Jamaah Dakwah di Indonesia. Di dalamnya PKS memiliki cita-cita memperjuangkan kalimat Allah SWT di muka bumi ini dan menebarkan rahmat-Nya untuk umat manusia. PKS didirikan sebagai partai dakwah dalam rangka membangun kesadaran umat terhadap eksistensi dirinya dan menghimpunnya dalam sebuah barisan yang solid, kuat dan teratur. Dalam makna ini pula sebuah partai yang tidak hanya sekedar akan bekerja untuk turut serta dalam pemilihan umum dan tidak akan bubar hanya lantaran kalah dalam jumlah perolehan suara. Akan tetapi akan berusaha mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang diridhai Allah SWT. Melalui PKS sebagai wajihah dari sebuah jama’ah dakwah konsep al-hizbu huwal-jama’ah al-jama’ah hiyal hizb’menjadi penting karena menjadikan suatu kekuatan yang akan mempelopori dan menggalang kerjasama dengan berbagai kekuatan yang secita-cita dalam menegakkan nilai dan sistem Islam secara berjamaah.
Islam pun tidak mengenalkan jamaah yang tidak terstruktur. Kita ketahui dalam sholat pun dibangun sebuah sistem yaitu tertatanya sebuah shof dalam sholat agar mendapakan kesempurnaan dalam sholat. Demikian dalam dakwah diperlukan kepemimpinan yang bertanggung jawab, karena juga akan mengatur dan mengarahkan kerja dakwah yang secara terstruktur. Oleh karena itu pilar amal jama’i guna mendukung kerja dakwah secara berjamaah perlu dibangun diatas :
- Pimpinan yang tulus dan bertanggungjawab (pimpinan)
- Individu-individu yang saling terkait diantara mereka dan ikhlas satu sama lainnya (Jama’ah)
- Sistem dengan konsep yang jelas (Dakwah)
Sehingga dalam dakwah memerlukan peran dari struktur untuk mengelola sebuah tujuan dan cita-cita dakwah secara berjamaah dan tidak hanya sekedar menjadi perkumpulan yang didirikan atas kepentingan-kepentingan pribadi. (ap/LU)
Presiden PKS : Tidak Ada Kemenangan Kecuali Dari Allah
By pks kraton 09.33 Taujih
![]() |
| Ust. Luthfi Hasan Ishaq |
Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq memberikan sedikit taujihnya kepada para kader yang hadir di acara Open House PKS di Markas Dakwah wilayah Pasar Minggu. Memberikan sambutan usai Bang Sani, Presiden PKS itu membuat suasana yang awalnya hiruk pikuk menjadi hening.
Dalam taujihnya, Luthfi Hasan mengatakan program silaturahmi seperti ini harus dilaksanakan mulai dari personal, halaqoh, keluarga dan para tokoh masyarakat. “Kalau bisa setiap datang ke rumah tokoh masyarakat atau ulama, maka mintalah nasehat kepada mereka,” ujarnya.
Luthfi juga mengatakan selama Ramadhan kita mempunyai lifestyle ibadah tersendiri maka untuk itu usai Ramadhan lifestyle itu harus dipertahankan. “ Ritme hidup harus dijaga, ibadah sehari-hari harus dijaga, jagalah suasana Ramadhan hingga bertemu Ramadhan yang akan datang,” tambahnya.
Lebih lanjut, ayah 11 orang anak ini mengatakan tentang kiprah PKS di pemilu yang akan datang, “ Masalah kemenangan tidak ada kemenangan kecuali murni karunia pemberian dari Allah. Jika mau menang maka harus mendekat pada yang memberi kemanangan,” lanjutnya yang disambut takbir oleh para Kader.
Terakhir dia berpesan agar para kader senantiasa menjauhi rasa bangga diri dan memarjinalkan Allah. Dia juga berkata bahwa seorang ikhwah harus akrab dengan ulama dan meminta para kader untuk memastikan bahwa setiap hari masih ada suasana Ramadhan. (yas)
Begini Kiat Mengoptimalkan Ramadhan
By pks kraton 13.47 Taujih
Prof Dr KH Achmad Satori Ismail
Dalam pandangan umat Islam, Ramadhan adalah bulan istimewa. Tiada nama bulan yang disebutkan dalam Alquran kecuali Ramadhan. (QS al-Baqarah 2:184). Enam bulan sebelum Ramadhan, para sahabat sudah menanti dan mempersiapkan diri untuk menyongsong bulan suci ini. Rasulullah SAW sejak Rajab sering berdoa, "Ya Allah, berkati kami pada bulan Rajab dan bulan Sya'ban dan antarkan kami sampai bulan Ramadhan. (HR al-Bazzar, Ibnu Sunny, al-Baihaqi, dan lainnya.)
Kendati hadis ini lemah menurut sebagian ulama, jiwa dan maknanya seirama dengan apa yang ditunjukkan Rasulullah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjelang tibanya bulan suci, Rasulullah selalu mengingatkan dengan tausiyah sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah ra. "Telah datang kepada kamu sekalian bulan penuh keberkahan, Allah mewajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan para petinggi setan dibelenggu. Allah memiliki di dalam Ramadhan suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikan malam itu, sungguh ia sangat merugi." (HR An-Nasa'i).
Ramadhan tiap tahunnya disambut bagaikan tamu agung yang dinanti karena merupakan keistimewaan anugerah Ilahi. Di antara keutamaan itu adalah pertama, setiap amal kebajikan umat Islam dilipatgandakan 10 kali lipat. Tapi, di bulan Ramadhan, amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan yang sunah disetarakan dengan amalan wajib di luar Ramadhan.
Kedua, kita diwajibkan puasa karena puasa adalah ibadah istimewa. "Setiap amalan anak cucu Adam dilipatgandakan. Satu kebajikan dilipatgandakan 10 kali sampai 700 kali lipat, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang akan langsung membalasnya. (HR Muslim).
Ketiga, pada bulan ini diturunkan Alquran, kita dianjurkan untuk membacanya dengan rajin. Imam az-Zuhri menyatakan, tiada amalan pada bulan Ramadhan yang lebih baik setelah amalan puasa dari tilawatul quran (membaca Alquran).Keempat, di dalam Ramadhan terdapat malam al-qadar. Beribadah di malam itu lebih baik dari berjuang di jalan Allah selama 1000 bulan. (QS al-Qadar:1-5).
Kelima, dosa-dosa kita yang terdahulu akan diampuni bila kita berpuasa dengan baik dan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala Allah (HR Bukhari dan Muslim). Keenam, pada bulan puasa ini, doa-doa kita dikabulkan Allah, apalagi saat berbuka puasa (HR Ibnu Majah dan Baihaqi).
Masih banyak lagi keutamaan Ramadhan. Dengan enam keistimewaan saja, sudah seharusnya kita menyiapkan diri menghadapi Ramadhan dengan mengoptimalkan dan memperbanyak ibadah. Di antaranya adalah dengan berniat ikhlas beribadah, mencontoh Rasulullah SAW dalam mengerjakan amaliah Ramadhan, menyiapkan target dalam tilawah, sedekah, baca buku, memperkokoh shalat jamaah, dan hubungan keluarga.
Di antara amalan unggulan adalah puasa dengan berkualitas, tilawatul quran, qiyam Ramadhan, menanti lailatul qadar tiap malam, memperbanyak tobat dan doa, mengeluarkan zakat fitrah, meningkatkan sedekah, dan iktikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Semoga kita dilepaskan dari siksa neraka. Amin.
Ust Hilmi Aminuddin: Kita Wajib Berlapang Dada
By pks kraton 08.58 Taujih
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah..
Sebagai da’i kita harus punya keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang ada karena itu adalah sunnatullah dalam perjalanan dakwah. Karakter da’i adalah Atsbatu mauqifan, paling teguh sikapnya. Tidak tergoda, tidak terprovokasi, tidak berhenti apalagi mundur.
Sebagai da’i kita harus punya keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang ada karena itu adalah sunnatullah dalam perjalanan dakwah. Karakter da’i adalah Atsbatu mauqifan, paling teguh sikapnya. Tidak tergoda, tidak terprovokasi, tidak berhenti apalagi mundur.
Namun, ikhwan wa akhwat fillah, keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan eksklusivitas. Kadang-kadang –na’udzubillah- menimbulkan kesombongan. Kadang-kadang menimbulkan kekakuan dalam komunikasi. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan arhabu shadron, paling berlapang dada.Teguh sikap, tapi paling berlapang dada. Berlapang
dada terhadap kritikan. Berlapang dada, bahkan terhadap aneka ragam cemoohan. Aneka ragam fitnah, kita berlapang dada. Bahkan kita jadikan semua itu bahan-bahan untuk instropeksi, untuk mawas diri, untuk memperbaiki.Kita sebagai pribadi dan kita sebagai jama’ah, kita perbaiki semua. Jadi insyaAllah semua itu kita terima dalam konteks bahan-bahan untuk instropeksi, untuk memperbaiki diri.
dada terhadap kritikan. Berlapang dada, bahkan terhadap aneka ragam cemoohan. Aneka ragam fitnah, kita berlapang dada. Bahkan kita jadikan semua itu bahan-bahan untuk instropeksi, untuk mawas diri, untuk memperbaiki.Kita sebagai pribadi dan kita sebagai jama’ah, kita perbaiki semua. Jadi insyaAllah semua itu kita terima dalam konteks bahan-bahan untuk instropeksi, untuk memperbaiki diri.
Kita berlapang dada.
Kita tidak marah, apalagi ngamuk-ngamuk. Walaupun kalimat amuk itu spesifik melayu, sampai jadi bahasa Inggris. Artinya itu spesifik karakter melayu, melakukan sesuatu tanpa perhitungan, gelap mata. Tapi insyaAllah dengan manhaj kita, kita sudah melepaskan diri sikap-sikap amuk melayu itu. Nggak ada pada kita. Nggak ada sikap-sikap amuk itu. Kita dengan tenang menghadapi cemoohan, menghadapi caci maki. Menghadapi ancaman-ancaman, kita tenang aja.
Kita tidak marah, apalagi ngamuk-ngamuk. Walaupun kalimat amuk itu spesifik melayu, sampai jadi bahasa Inggris. Artinya itu spesifik karakter melayu, melakukan sesuatu tanpa perhitungan, gelap mata. Tapi insyaAllah dengan manhaj kita, kita sudah melepaskan diri sikap-sikap amuk melayu itu. Nggak ada pada kita. Nggak ada sikap-sikap amuk itu. Kita dengan tenang menghadapi cemoohan, menghadapi caci maki. Menghadapi ancaman-ancaman, kita tenang aja.
Karena kita arhabu shadron. Sehingga komunikasi kita dengan orang, termasuk dengan yang mencaci-maki pun tidak patah arang. Setiap saat kita tetap bisa menyambung silaturrahim. Setiap saat kemungkinan ta’awun. Setiap saat terbuka kerjasama. Nggak ada kita mutung-mutungan. Nggak ada.
Ini sikap dari kader kita harus begitu. Atsbatu mauqifan, tetapi arhabu shadron. Paling teguh sikapnya, tapi luar biasa lapang dadanya. Dan ini karunia Allah swt.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah..
Rasulullah saw. qudwah kita, yang sudah berarti ujiannya jauh lebih besar dari ujian kepada kita. Disebutkan asaddu bala’an itu al anbiya’, yang paling berat ujiannya itu para nabi. Rasulullah saw. ketika datang ujian, di saat-saat fatrah makkiyah, beberapa tahun sebelum hijrah, dua tahun – tiga tahun sebelum hijrah, istri beliau Khadijah ra. meninggal dunia. Padahal dengan wibawanya sebagai bangsawan Quraish, denang hartanya sebagai aghniya’ Quraish, itu mem-back up dakwah Rasulullah saw.
Rasulullah saw. qudwah kita, yang sudah berarti ujiannya jauh lebih besar dari ujian kepada kita. Disebutkan asaddu bala’an itu al anbiya’, yang paling berat ujiannya itu para nabi. Rasulullah saw. ketika datang ujian, di saat-saat fatrah makkiyah, beberapa tahun sebelum hijrah, dua tahun – tiga tahun sebelum hijrah, istri beliau Khadijah ra. meninggal dunia. Padahal dengan wibawanya sebagai bangsawan Quraish, denang hartanya sebagai aghniya’ Quraish, itu mem-back up dakwah Rasulullah saw.
Abu Thalib –pamannya- yang mem-back up melindungi keponakannya juga meninggal dunia dalam waktu yang tidak berjauhan. Di saat itu intimidasi Quraish meningkat, ancaman-ancaman meningkat, karena dua pelindung besar ba’da Allah sudah tidak ada. Sudah tentu sebagai manusia, Rasulullah merasakan himpitan itu, tekanan itu, intimidasi itu semakin terasa. Tapi kemudian Allah menurunkan dua surat (Adh-Dhuha & Al Insyirah), menghibur Rasulullah saw.
Kata Allah swt. dalam surat Ad Dhuha, “Waddhuha, wallaili idza saja..” Allah bersumpah terhadap waktu dhuha dan waktu malam. Kata Allah, “Maa wadda’aka Rabbuka wa maa qola..” Tidak sekali-kali Allah meninggalkanmu dan tidak juga marah kepadamu.
Ini kita sebagai waratsatul anbiya’ wal mursalin, ketika ada himpitan-himpitan, kembali kepada waddhuha itu. Allah memang dari waktu ke waktu menguji kita, selagi kita istiqomah ala thoriqid da’wah, insyaAllah, Allah tidak meninggalkan kita. Maa wadda’aka wa maa qola, dan tidak juga marah.
Itu Allah lagi menggembleng kita. Yang kadang-kadang supaya hasil gemblengannya hakiki, instrukturnya itu memang lawan bener gitu. Jadi bukan artifisial, bukan. Bukan dibuat-buat. Memang orang yang berniat jahat banget sama kita yang jadi instruktur. Agar hasilnya hakiki. Tembakannya bener-bener diarahkan. Supaya hasilnya hakiki, dalam pelatihan itu. Itu sunnatullah begitu.
Kalau dalam latihan yang dibuat, yang artifisial, hasilnya tidak hakiki. Jadi sekali lagi, ingat kepada waddhuha wallaili idza saja. Kata Allah, maa wadda’aka Rabbuka wa maa qola. Bahkan Allah membangunkan optimisme kita, walal akhiratu khairu laka minal ula. Masa depan kalian lebih baik dari masa lalu kalian. Yakini itu.
Untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, baik dunia atau akhirat kita, ya kita perlu digembleng. Walal akhiratu khairu laka minal ula. Dan, wala saufa yu’thika, Allah akan selalu memberi dan memberi, memfasilitasi dan memfasilitasi, jika kita tetap berjalan dalam thariqul istiqomah. Wala saufa yu’thika Rabbuka fatardho. Dan kamu ridho, puas, qona’ah, akan perjalanan yang benar ini.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah..
Dalam situasi yang seperti yang saya gambarkan dalam sejarah Rasulullah, kemudian diikuti dengan surat al Insyirah. Alam nasyrah laka shadrok, kata Allah. Bukankah telah kami lapangkan dada kalian. Yang tadi saya katakan arhabu shadron, itu karena Allah melapangkan dada kita.
Dalam situasi yang seperti yang saya gambarkan dalam sejarah Rasulullah, kemudian diikuti dengan surat al Insyirah. Alam nasyrah laka shadrok, kata Allah. Bukankah telah kami lapangkan dada kalian. Yang tadi saya katakan arhabu shadron, itu karena Allah melapangkan dada kita.
Alam nasyrah laka shadrok, wawadho’na ‘anka wizrok. Dan Kami letakkan beban yang ada di punggung kalian. Alladzi anqodzo dhohrok. Warafa’na laka dzikrok. Kemuliaan kalian ditingkatkan. Fa inna ma’al ‘usri yusro, inna ma’al ‘usri yusro, kata Allah dalam menghidupi situasi seperti ini,. Luar biasa. Allah untuk memberikan kemudahan melalui kesulitan. Dalam kesulitan itulah terkandung kemudahan. Diingatkan sampai dua kali. Untuk menemukan kemudahan dalam kesulitan. Untuk menemukan kenikmatan dalam ancaman. Ya, kita harus terus aktif.
adap waktu dhuha dan waktu malam. Kata Allah, “Maa wadda’aka Rabbuka wa maa qola..” Tidak sekali-kali Allah meninggalkanmu dan tidak juga marah kepadamu.
Ini kita sebagai waratsatul anbiya’ wal mursalin, ketika ada himpitan-himpitan, kembali kepada waddhuha itu. Allah memang dari waktu ke waktu menguji kita, selagi kita istiqomah ala thoriqid da’wah, insyaAllah, Allah tidak meninggalkan kita. Maa wadda’aka wa maa qola, dan tidak juga marah.
Ini kita sebagai waratsatul anbiya’ wal mursalin, ketika ada himpitan-himpitan, kembali kepada waddhuha itu. Allah memang dari waktu ke waktu menguji kita, selagi kita istiqomah ala thoriqid da’wah, insyaAllah, Allah tidak meninggalkan kita. Maa wadda’aka wa maa qola, dan tidak juga marah.
Itu Allah lagi menggembleng kita. Yang kadang-kadang supaya hasil gemblengannya hakiki, instrukturnya itu memang lawan bener gitu. Jadi bukan artifisial, bukan. Bukan dibuat-buat. Memang orang yang berniat jahat banget sama kita yang jadi instruktur. Agar hasilnya hakiki. Tembakannya bener-bener diarahkan. Supaya hasilnya hakiki, dalam pelatihan itu. Itu sunnatullah begitu .
PKS dan Tantangan Dakwah Era Siyasi
By pks kraton 00.49 Taujih
Bandul dakwah Indonesia telah berayun jauh dari mihwar tandzimi ke siyasi. Jika sebelumnya ikhwah sibuk dengan kajian ibadah,tazkiyatun nafs, makna syahadatain, al-kiyadah wa al-jundiyah, dll. maka menjadi wajar ketika kini banyak yang tergagap menyongsong era siyasi, sebuah era penuh kontroversi. Hatta, ada ikhwah yang mempertanyakan—tepatnya menyesalkan-- mengapa kini setiap liqo' bahasannya selalau politik. Hal tersebut setidaknya menjadi bukti, betapa hari ini kita tidak sepenuhnya siap masuk ke mihwar siyasi.
Sampai kini, banyak isu-isu yang tidak bisa terjawab oleh sebagian besar kader. Diskusi yang ada adalah pemaksaan prinsip-prinsip jamaah yang telah baku dan final agar mau tunduk sesuai persepsinya masing-masing, bukan berdasar prinsip jamaah yang seharusnya.
Dan kini, bak bola salju liar, fenomena ini terus menggelinding menerjang setiap kader, terutama mereka yang masih kurang pemahanan siyasi dan yang sedikit akses ke "pusat informasi".
Filosofisasi Siyasi
Hidup adalah sinkronisasi idealisme dengan realita, antara teks dengan rasionalitas lapangan. Itulah mengapa muncul kajian berbagai disiplin fiqh, tak terkecuali fiqh siyasi yang berusaha menjabarkan teks (Al-Quran dan sunnah) ke dalam teknis kehidupan.
Dari sini awal pebicaraan kita tentang siyasi. Siyasi bukanlah kajian ilmu filsafat yang selalu mencari apa yang ideal tanpa pertimbangan rasionalitas lapangan. Kita di dakwah bukan dididik menjadi filsuf yang tidak membumi, mengawang-ngawang tanpa solusi. Semboyan kita adalah "nahnu kaum amaliyun"--kami kaum pekerja keras--. Contoh konkretnya, 20 % targetan jamaah (melalui Mukernas) yang harus segera dirasionalisasi, bagaimana langkah dan strateginya agar tercapai. Dari sini akan tampak beda yang begitu kentara antara yang mengkritik dan yang diamanahi target tersebut (dalam hal ini TPPN).
Sementara ini banyak ikhwah yang memposisikan dirinya sebagai filsuf di jamaah ini. Memandang kebijakan hizb dalam kaca mata seorang filosof. Maka yang ada adalah pandangan-pandangan ideal versi individu, tanpa mengkaji realita lapangan dan cenderung menyalahkan bila ada yang berbeda dengan persepsi dakwah yang telah dibangunnya sendiri.
Ini yang saya sebut sebagai filosofisasi siyasi.
Fenomena lain adalah menganggap bahwa siyasi itu harus seragam dan searah, tidak boleh ada konflik atau beda pendapat. Ternyata selama ini kader cenderung pada bahasan politik Arab Saudi dan Mesir—sesuai backgruond pendidikan asatid mereka-- yang selalu seragam satu warna. Di kedua Negara ini, arus politik harus seragam, bila ada yang berbeda harus dihanguskan.
Bicara rasionalitas, politik itu perlu sebuah rasionalitas lapangan agar yang diusung bukanlah hanya syair-syair lapuk macam khilafah dll. Ini untuk membedakan kita dengan gerakan "sebelah" yang lebih mementingkan bentuk dibanding subtansi. Kita bukan HTI yang selalu menempatkan khilafah di atas segalanya tanpa pertimbangan rasionalitas lapangan, tanpa memperhatikan hasil survey, dan rentetan fakta ilmiah lainnya.
Suk atidak suka, Jamaah kita sudah memutuskan untuk terjun ke dunia demokrasi. Sampai point ini, tidak perlu kita berdebat lagi. Juga jamaah ini sudah bersepakat melalui Mukernasnya bahwa target perolehan 2009 adalah 20 %. Inilah adalah ijma' jamaah ini di Indonesia yang setiap kader berkewajiban mensukseskannya.
Sementara seperti sempat disinggung Eep ceruk pasar partai Islam itu hanya didiami 37,54% dari total pemilih. Para pemilih partai Islam cenderung mengalihkan dukungannya ke partai berbasis massa Islam lainnya. Dengan kondisi pemilih lintas parati Islam yang stagnan, tidak mungkin PKS bisa meraih suara 20 persen seperti ditargetjan.
Jika kita dalam posisi menjadi orang yang diamanahkan tagetan 20% itu, dengan kondisi seperti ini, apa yang akan kita lakukan? Tentu berbagai macam strategi kampenye akan kita pikirkan.
Akseptabilitas VS Elektabilitas.
Akseptabilitas menjadi faktor penting dimana sebuah partai bisa diterima atau tidak oleh publik. Sekat-sekat yang ada selama inilah yang berusaha PKS leburkan. Hal ini diatasi dengan serangan udara untuk melebur sekat-sekat imaginer yang timbul dari persepsi sebagian masyarakat yang masih menganggap PKS radikal, eksklusif, fundamentalis, dll. Ibarat sebuah wadah, ia harus punya corong yang lebar agar menjadi pintu masuk berbagai elemen bangsa. Inilah pertarungan persepsi, image yang selama ini ditempuh dengan berbagai inisiatif:
1. Pemberian PKS Award
Pemberian PKS award ke 100 peimimpin muda serta baru-baru ini kepada 8 wanita yang yang meninspirsi bangsa adalah bentuk pencitraan partai yang terbuka. Orang bisa berkata tenyata PKS bisa melihat kelebihan pada elemen lain dengan memberi penghargaan tidak saja untuk aktivis Islam, tapi juga orang kiri semacam Budiman Sujatmiko misalnya.
2. Dekonstruksi Warna
Dekonstruksi warna adalah hal penting. Selama ini, masyarakat kadung mengangngap bahwa merah adalah abangan (PDI), kuning birokrat (Golkar) dan hijau adalah Santri (partai Islam). Ajaran Clifford Geerts ini sudah saatnya di-recycle bin- kan . Jika sekarang kita lihat background bendera PKS kuning, maka ke depan PKS berkampanye dengan warna background bendera merah, hijau bahkan biru sekalian. Inilah partai lintas warna, yang tidak menjadikan warna bendera sebagai sumber konflik, tapi kita ingin merekatkan seluruh elemen bangsa.
3. Iklan Politik
Termasuk juga Iklan Politik yang menampilkan berbagai tokoh bangsa, termasuk di dalamnya Soeharto. Banyak kontroversi memang, tapi lihatlah sirah. Disana ada Rasul yang tetap memberlakukan hubungan kerjasama kaum Anshar dengan Yahudi, pasca hijrah dari Mekkah. Padahal salah satu dari dua makhluk yang dilaknat Allah dalam Qur'an adalah Firaun dan Yahudi. Seburuk-buruk Soeharto dia bukan Yahudi, ia adalah seorang muslim dan setidaknya melafalkan kalimat la ila ha illa allah di akhir hayatnya.
Lalu, setelah image terbuka, what next?
Ibarat sebuah bejana, maka adanya iklan dan pemberian award adalah sarana untuk memperluas corong bejana tersebut agar bisa menjadi jalan masuk bagi cucuran air yang menderas nantinya. Sedangkan untuk menampung cucuran air itu di butuhkan perluasan penampang bejana.
Maka strategi kedua adalah serangan darat berupa direct selling wajib bagi kader minimal 20 orang, kaos-isasi, stikerisasi, baksos dan kegiatan simpatik lainnya.
Sementara itu, krisis ekonomi global sekarang ini nyatanya membawa banyak manfaat bagi PKS. Bisa kita lihat, bagaimana donator utama Golkar; Abu Rizal Bakrie berkurang drastis kekayaanya dari nomor satu se-Indonesai menjadi nomer 8. Sutrisno Bachir yang belakangan ini selalu menggembor-gemborkan "hidup adalah perbuatan" kini tak bisa berbuat apa-apa lagi di media. Artinya, start dana PKS tidak begitu jauh lagi seperti pemilu 2004.
Maka, kini saatnya menunjukkan kualitas SDM yang dimiliki PKS. Dengan jumlah kader yang sekarang mencapai hampir satu juta (950.000), dengan asumsi setiap kader bisa merekrut 20 orang-- disamping variabel lainnya-- target 20 persen insyaalah bisa terlaksana.
Seputar FKP
Sementara ikhwan lain sibuk dengan amalnya, masih ada kader yang sibuk jadi filosof dakwah. Itulah FKP. Beragamnya motivasi awal pendirian forum ini menunjukan bahwa mereka tidak berangkat dari idealisme yang sama, hanya berdasar semangat mengkritik belaka. Nampak sekali ketika mereka menuntut hizb kembali ke asholah, sementara dalam gerak protesnya, jauh lebih banyak asholah yang dilanggar. Salah satu asholah yang mereka langgar sendiri adalah adab mengkritik dan ketaatan. Point ini yang akan dibahas.
Adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat senior yang getol mengkritik gubernur-gubernur agar meningalkan kekayaannya untuk masyarakat miskin sejak zaman khalifah Umar bin Khattab. Ia berpindah dari satu propinsi ke propinsi lain menggalang dukungan akar rumput. Sampai suatu ketika ada pengikutnya yang berkata: "marikita mari kita lawan saja khalifah dengan masa kita". Namun Abu Dzar tak setuju. Ia adalah sahabat yang tahu kaidah ketaatan pada kiyadah.
Sampai pada masa khalifah Utsman, dengan kondisi ia telah membuat gerakan yang merisaukan umat, khalifah memerintahkan ia untuk pergi mengasingkan diri ke padang pasir, sang Abu Dzar pun mentaatinya. Sampai ia meninggal dengan keadaan menyedihkan di padang pasir didampaingi istrinya. Sementara tidak ada sahabat yang tahu, hingga ada kafilah yang melewati padang pasir itu, barulah sahabat tahu bahwa Abu Dzar sudah meninggal.
Point yang bisa kita ambil adalah, sejauh apapun kita mengkritik kiyadah, tidak serta merta menjadikan kita berkurang ketaatan pada kiyadah tersebut. Saluran kritikpun sudah tersedia, tinggal datang ke orang yang bersangkutan. Yang disayangkan, salah satu agenda yang diusung FKP adalah sampai pada tahap pencopotan mas'ul dakwah. Sebuah hal yang sama sekali jauh dari ketaatan.
Seperti layaknya PKS watch, mungkin contens yang disampaikan benar secara dalil tapi secara konteks amat tidak relevan. Simaklah kisah ketika Rasul sedang sibuk mebagikan ghanimah, datang seorang badui yang menasehati Rasulullah :" ittaqu allaha ya rasul" taatlah pada Allah ya Rasul..seolah Rasul sedang bebuat tidak adil. Maka seketika itu Rasul bersabda:
"Niscaya dari tulang Sulbi oran g Baduai ini akan lahir seorang pengkhianat Islam."
Dan benarlah, dari keturunan siBadui ini lahirlah al-Hajjaj, seorang penguasa di Irak yang sangat kejam.
Seperti Inilah yang dilakaun PKS Watch, mengkriktik dengan balutan dalil, namun dalam konteks yang tidak tepat. Berusaha menggiring opini public bahwa apa yang ia sampiakan adalah kenayataan yang dihadapi para ustadz yang dikritik. Akhirnya Yang ada hanya kontra produktif, hingga memperluas rasa sakit hati.
Bicara PKS, Bicara Harapan Peradaban Dunia..
Kini, saatnya bicara yang lebih prospektif. Dikatakan bahwa PKS hanyalah setetes air di tengah lautan bangsa Indoneisa. PKS tidak mugkin bisa mengelola negeri ini sendirian. PKS ingin merangkaul semua pihak yang benar-benar ingin membangun bangsa ini.
Cita-cita PKS adalah membangun negara Indonesia yg madani, adil, sejahtera dan bermartabat yg diridhai oleh Allah SWT. PKS ternyata memiliki cita-cita yg jauh lebih besar dari sekedar menjadikan Indonesia negara yg madani tadi. PKS ingin menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia.
Indonesia menjadi tumpuan harapan besar umat Islam di seluruh dunia. Mereka membutuhkan sosok pemimpin dunia, dan mereka mengharapkan Indonesialah yg menjadi pemimpin dunia itu. Setidaknya itulah yg disampaikan oleh Dr. Yusuf al Qaradhawy, seorang ulama kaliber global yg menjabat sebagai Ketua Ulama Internasional dan Dewan Fatwa Ulama Eropa. Itulah sedikit gambaran harapan besar itu.
Cita-cita PKS adalah membangun negara Indonesia yg madani, adil, sejahtera dan bermartabat yg diridhai oleh Allah SWT. PKS ternyata memiliki cita-cita yg jauh lebih besar dari sekedar menjadikan Indonesia negara yg madani tadi. PKS ingin menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia.
Indonesia menjadi tumpuan harapan besar umat Islam di seluruh dunia. Mereka membutuhkan sosok pemimpin dunia, dan mereka mengharapkan Indonesialah yg menjadi pemimpin dunia itu. Setidaknya itulah yg disampaikan oleh Dr. Yusuf al Qaradhawy, seorang ulama kaliber global yg menjabat sebagai Ketua Ulama Internasional dan Dewan Fatwa Ulama Eropa. Itulah sedikit gambaran harapan besar itu.
Cita-cita besar PKS untuk menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia bukanlah omong kosong. PKS membangun partainya menjadi partai yg punya kualifikasi dan standar global. Bahkan PKS memperluas jaringannya ke Partai Buruh Australia , Partai Komunis China , dan Turki. PKS telah bekerja sama dgn 3 elemen ini yg secara regional mewakili benua Australia , Asia dan Eropa. Sepertinya PKS ingin mengatakan, lawan kami sekarang bukan lagi Indonesia , lawan kami sekarang adalah dunia.
Itulah beberapa kiprah PKS untuk mencapai cita-cita besarnya. Dan cita-cita besar itu tidaklah akan tercapai tanpa ada pondasi yg kuat. Pondasi itu adalah negara yg kuat (strong state). Karenanyalah PKS bertekad membangun Indonesia menjadi negara yg kuat dan disegani di mata internasional. Dan PKS sangat menyadari ia tidak bisa merealisasikannya sendiri tanpa peran serta seluruh elemen bangsa ini.
Itulah beberapa kiprah PKS untuk mencapai cita-cita besarnya. Dan cita-cita besar itu tidaklah akan tercapai tanpa ada pondasi yg kuat. Pondasi itu adalah negara yg kuat (strong state). Karenanyalah PKS bertekad membangun Indonesia menjadi negara yg kuat dan disegani di mata internasional. Dan PKS sangat menyadari ia tidak bisa merealisasikannya sendiri tanpa peran serta seluruh elemen bangsa ini.
Ini lebih prioritas dilakukan saat ini dalam bingkai nation-state. Prioritas di masa mendatang bisa berbeda, karena nation state sendiri kini sedang mengalami taruhan eksistensi. Masihkah nation staterelevan untuk zaman sekarang? Seperti yang dipaparkan Kenichi Ohmae tentang " The End of Nation State" dan sebuah "Bonderless World."
Khatimah…
Sebenarnya, yang sekarang kita butuhkan bukan politik partai, tapi politik negara. Bagaimana mengelola negara ini, itulah concern PKS saat ini. Dan PKS akan merangkul seluruh elemen bangsa untuk bekerja sama mengelola negara tanpa memandang sekat-sekat primordial seperti ideologi, agama, ras, suku, dll.
Bagaimanapun, kita (bangsa Indonesia ) membutuhkan narasi baru, suatu ide baru, suatu cita-cita baru yangg melampaui wilayah republik ini, jika kita ingin menjadi kiblat peradaban dunia.
"Mudah-mudahan di tangan kita semuanya... Di tangan-tangan yg setiap hari berwudhu' dan bersuci ini... Dan di depan wajah-wajah yg setiap hari bersujud ini... Mudah-mudahan Allah mengubah Indonesiamenjadi qiblat peradaban dunia..."
Salam,,,,
Ambil dari Halaman PKS Sebelah.. Mungkin sudah lama tapi masih layak untuk dibaca.
3 Makna Kelahiran
By pks kraton 02.37 Taujih
Kepada seluruh tamu undangan yang Kami hormati, kepada seluruh jajaran pengurus Partai Keadilan Sejahtera dan kepada segenap kader Partai Keadilan Sejahtera, Ikhwan dan Akhwat fillah saya ucapkan selamat berulang tahun. Semoga Allah terus memberikan kejayaan kepada kita dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, memberikan taufik dan hidayah dan inayahNya kepada kita.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, setiap hari selalu ada yang memperingati hari ulang tahun atau hari kelahiran baik kelahiran sebagai pribadi atau sebagai komunitas, kelahiran organisasi-organisasi dan kelahiran bangsa-bangsa. Hari ini, kita bersama-sama dengan riayah dan inayah dari Allah SWT juga memperingati kelahiran lembaga perjuangan ini: Partai Keadilan Sejahtera.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, hal yang paling penting dalam memperingati hari kelahiran adalah membangkitkan rasa syukur kepada Allah SWT
{ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ} [إبراهيم: 7]
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS Ibrahim 7) Bila kita pandai bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, niscaya Allah akan memberikan tambahan berupa limpahan karuniaNya, limpahan rahmatNya kepada kita semua. Oleh karenanya untuk memantapkan rasa syukur kita, kita harus memahami makna kelahiran kita, makna kelahiran setiap insan, makna kelahiran setiap umat dan makna kelahiran setiap bangsa.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, kita tidak akan lahir ke dunia ini kecuali disebabkan oleh adanya mawaddah warahmah, adanya mahabbah warahmah. Kita lahir karena adanya cinta dan kasih sayang dari ibu dan bapak kita. Kita lahir melalui kasih sayang kedua orang tua kita dan kelahiran kita disambut oleh kasih sayang kerabat, saudara dan handai taulan kita. Oleh karena itu kita lahir untuk membawa misi rahmatan lilalamin. Kita lahir untuk menyebar kasih sayang kepada seluruh lapisan ummat, seluruh lapisan bangsa, bahkan seluruh lapisan kemanusiaan. Kita lahir dengan membawa mahabbah warahmah.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, kita dilahirkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, kita pun lahir dengan kehormatan dan kemuliaan.
{ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ} [المنافقون: 8]
Padahal izzah (kehormatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS Munafiqun 8)Selain kehormatan Allahpun memberikan kemuliaan kepada kita di atas semua makhluk lainnya yang diciptakanNya.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا (الأسراء :٧٠)
70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-Isra : 70)Kita lahir dengan kehormatan dan kemuliaan, oleh karena itu setelah kita diberi kehormatan dan kemuliaan oleh Allah, tidak boleh kita menempatkan diri kita dalam posisi yang lemah dan hina, karena kita telah lahir dengan kehormatan dan kemuliaan setelah sebelumnya kita lahir dengan kecintaan dan kasih sayang.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, insya Allah kelahiran kita juga adalah untuk membangun kehormatan dan kemuliaan umat, bangsa dan negara serta kemanusiaan. Kitapun lahir kedunia dengan mengemban amanah dan memikul tanggung jawab. Kita lahir dengan membawa misi ibadah dan tugas kekhilafahan di dunia ini.
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات: 56]
56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat : 56){وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً } [البقرة: 30]
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah : 30)Kita lahir sudah dengan mengemban amanah dan memikul tanggungjawab yang sebelumnya oleh Allah SWT telah ditawarkan kepada makhluk-makhluk lain:
{إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا} [الأحزاب: 72]
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh (QS Al Ahzab 72)
Amanah dan tanggung jawab ini harus kita tunaikan , sebab seluruh gerak, ibadah, tindakan dan ucapan kita akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah SWT, inna sam’a wal bashoro wal fuadakullun ulaika kana anhu masula:
{إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS al-Isra 36)Oleh karena itu harus kita sadari bahwa tidak bisa kita mengkhianati manah yang kita emban dan tanggung jawsab yang kita pikul tersebut:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [الأنفال: 27]
27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al-Anfal : 27)Kader Partai Keadilan Sejahtera , kader Partai Dakwah dan kader Gerakan Dakwah harus senantiasa mengingat tiga nilai atau tiga makna kelahiran ini:
- Wulidna bilmahabbati warahmah (ولدنا بالمحبة والرحمة), kita lahir dengan membawa misi penyebar kasih sayang
- Wulidna bil izzati walkaramah (ولدنا بالعزة والكرامة), kita lahir dengan kehormatan dan kita lahir untuk meraih kejayaan
- Wulidna bilamanati bil masuliyah (ولدنا بالأمانة و المسؤلية), kita lahir untuk terus dan terus memikul tanggungjawab, mengemban amanah yang insya Allah kita bersama-sama akan menghadap Allah untuk dimintai pertanggungjawabannya sejauh mana amanah dan mausliyah itu kita laksanakan.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah, kader PKS yang mengemban misi amanah dan masuliyah ini, insya Allah senantiasa bersyukur sehingga hari ini merupakan hari Syukrun Azhim, syukuran yang agung yang insya Allah berarti kita akan mendapatkan kemenangan-kemenangan besar pula sesuai dengan janjinya bahwa orang yang bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat. Sehingga umat, bangsa, negara dan umat manusia pun akan berada dalam kehormatan dan kemuliaan karena itu adalah pangkal kejayaan di dunia dan akhirat. Allahu Akbar, AllahuAkbar .
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Pidato Kebangsaan Ketua Majelis Syuro PKS KH. Hilmi Aminuddin di depan lebih dari 300 ribu kader dan simpatisan. Dalam Acara Milad PKS Ke – 13 di Gelora Bung Karno, Ahad 17 April 2011.
Sumber : http://pks.or.id/news/tiga-makna-kelahiran
Menyublim Kepedihan
By pks kraton 18.56 Taujih
Islamedia - Sesungguhnyalah epos setiap pahlawan dan pejuang selalu menyimpan kisah-kisah kepedihan. Karena semua pahlawan, semua orang besar, tidak bisa menghindarkan diri dari keterbatasan dirinya yang tidak dimengerti publik. Kebesaran nama dirinya telah menyihir opini masyarakat, seakan dia adalah manusia tanpa cela, serba sempurna dan serba tidak ada kekurangannya. Di titik ini, setiap pejuang ditempatkan secara terasing, di posisi yang tidak dia kehendaki.Ada pejuang yang memilih menjaga citra diri dengan mencoba menjadikan dirinya sesuai harapan publik. Tentu ini tidak mudah. Dia adalah magnet bagi kamera media. Omongannya, responnya, perbuatannya, tindakannya, adalah sebuah berita. Semua mata memandang kepadanya, dimanapun ia berada. Tak ada ruang privat lagi bagi orang seperti dirinya. Media bisa masuk ke semua ruang-ruang pribadinya.
Dengan pilihan ini, ia harus menjadi seseorang seperti yang diharapkan publik. Bukan menjadi dirinya sendiri yang memiliki banyak keterbatasan. Namun ia harus menjadi hero, menjadi superman, menjadi seseorang yang selalu diidolakan semua kalangan masyarakat. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk menjadi dirinya sendiri, menjadi manusia biasa yang bisa menangis, bisa salah, bisa lupa, bisa khilaf, bisa berbuat dosa. Dia dipaksa menjadi seseorang seperti harapan masyarakat terhadap sosok pahlawan dan pejuang. Bahwa para pahlawan selalu tampil elegan, tanpa cela, tanpa cacat. Sedikitpun.
Celakanya, para pemuja sosok pahlawan ini hampir tidak bisa membedakan mana sosok manusia biasa yang tengah berusaha menjadi pejuang atau pahlawan, dengan manusia pilihan yang Tuhan takdirkan menjadi Nabi. Bagi seorang Nabi utusan Tuhan, dirinya mendapatkan dukungan Ketuhanan secara penuh. Karena semua perkataan dan perbuatannya adalah hukum untuk diikuti oleh pemeluk agama sang Nabi. Berbeda dengan manusia yang lainnya, kendati dia adalah seseorang yang berusaha menempatkan diri dalam barisan para pejuang dan para pahlawan, namun tetap saja dia adalah manusia biasa.
Sebuah harapan yang berlebihan bahkan absurd. Saat dunia telah sangat lama ditinggalkan oleh Nabi terakhir, akhirnya menjadi defisit keteladanan dan contoh kebaikan. Dunia muak dengan kemunafikan dan kepura-puraan yang sering ditampakkan banyak aktor politik dan banyak pejabat publik. Masyarakat menghendaki dan mencoba mengidentifikasi tokoh-tokoh yang bisa menjadi sumber inspirasi dan keteladanan dalam kehidupan. Sangat langka. Begitu menemukan beberapa gelintir orang yang dianggap masih memiliki harapan untuk menjadi panutan, maka harapan mereka menjadi berlebihan dan tidak masuk akal.
Para pejuang ini telah dipajang dalam bingkai harapan yang sangat ideal. Tak boleh berdebu, mereka bersihkan setiap hari dengan puji-pujian dan sejuta doa. Para pejuang ini yang akan menjadi penyelamat bangsa, akan menjadi harapan perubahan bagi Indonesia. Sebuah obsesi yang lahir dari dahaga berkepanjangan akan munculnya sosok keteladanan dari para pahlawan. Sangat lama masyarakat menunggu para pahlawan yang akan mensejahterakan rakyat Indonesia dan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan dan keterbelakangan.
Para pejuang telah ditempatkan pada posisi yang mustahil melakukan kesalahan. Mereka tidak ditolerir memiliki kelemahan, bukan hanya untuk diri pribadinya. Namun juga bagi isteri, anak-anak dan semua keluarganya. Masyarakat mudah mengalami kekecewaan fatal bahkan keputusasaan apabila melihat ada kekurangan pada diri sang hero, atau pada isteri dan anak-anaknya. Keteladanan dituntut untuk selalu dipenuhi, bahkan oleh anak-anak yang tidak banyak mengerti beban orang tua mereka yang terlanjurkan diidolakan sebagai sosok pahlawan super. Isterinya harus super, anak-anaknya harus super, keluarga besarnya harus super. Betapa berlebihan tuntutan ini.
Namun ada pula para pejuang yang memilih menikmati menjadi dirinya sendiri apa adanya. Seorang manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Di tengah kelemahan dan keterbatasan diri, ia mencoba menjadi seseorang yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Memberikan kontribusi kebaikan sekuat kemampuan yang dia miliki. Waktu, tenaga, pikiran, harta benda dia curahkan untuk melakukan hal terbaik yang bisa dia sumbangkan bagi perbaikan bangsa dan negara. Mungkin tidak terlalu memuaskan masyarakat, mungkin tidak heroik, mungkin tidak dielu-elukan oleh para pemuja kepahlawanan. Namun ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Dia melihat dunia dengan dua kacamata pada saat bersamaan. Satu kacamata idealis, dia memiliki visi yang sangat jelas tentang hal-hal ideal yang harus dilakukan dan harus terjadi bagi bangsa dan negara. Satu lagi kacamata realis, bahwa dia melihat Indonesia tidak cukup diubah oleh keteladanan beberapa sosok pahlawan. Indonesia hanya memerlukan kebersamaan untuk melakukan perubahan, memerlukan konsistensi untuk menegakkan aturan, memerlukan kedisiplinan untuk menjalankan agenda kebangsaan dan kenegaraan. Indonesia memerlukan harmoni dari pagelaran orkestra berbangsa dan bernegara.
Dia tidak mau terkurung ke dalam sosok pahlawan ideal seperti yang digambarkan masyarakat. Benarkah perubahan Indonesia harus dimulai dari sosok-sosok profan yang tak memiliki sedikitpun kekurangan, cacat, kelemahan dan kesalahan ? Bukankah itu hanya layak dinisbatkan kepada para Nabi dan Rasul yang dimuliakan Tuhan dengan tugas-tugas Ketuhanan ? Dia merasa hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan perubahan ke arah kebaikan, semaksimal kemampuan yang dia miliki. Namun dia mengetahui ada sejumlah sisi-sisi kemanusiaan dalam dirinya yang akan sulit dipahami oleh publik.
Sering terbersit dalam kesendiriannya, apakah hanya ada dua pilihan menjalani kehidupan bagi bangsa Indonesia ? Pilihan menjadi pahlawan super hero yang dipuja-puja seluruh masyarakat, dan pilihan menjadi pecundang yang dicela oleh semua media, tanpa sisa ? Tidak adakah pilihan menjadi diri sendiri yang jujur apa adanya, menjadi seseorang yang penuh keteterbatasan dan kelemahan, namun selalu berusaha menyumbangkan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara ? Dimanakah tempat orang-orang seperti ini ? Apa nama dan nilai mereka ini ? Menjadi pahlawan ataukah pecundang ?
Menjadi super hero tanpa cela betapa sangat sulitnya. Siapa yang akan sanggup menempati posisi seperti ini, siapa yang akan merelakan dirinya berada dalam sebuah suasana pencitraan, untuk memenuhi harapan dahaga masyarakat akan sosok-sosok keteladanan ? Menjadi pejuang tanpa kelemahan dan kekurangan, betapa beratnya. Menjadi pahlawan tanpa sedikitpun tercemar oleh cela yang dilakukan oleh dirinya, isteri, anak-anak dan keluarga besarnya, siapa sanggup menempuhnya ? Inilah episode kepedihan setiap pahlawan dan pejuang.
Saya berusaha memilih sesuatu yang masuk akal dan sesuai hati nurani. Saya bukan seorang pahlawan, bukan seorang super hero, bukan seorang super man, atau semacam itu. Saya hanyalah seorang anak bangsa yang memiliki teramat sangat banyak kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan hal-hal tidak ideal. Dari sudut pandang apapun. Namun saya sangat meyakini bahwa kebaikan besar bermula dari kebaikan-kebaikan kecil. Saya sangat meyakini hal-hal luar biasa bisa bermula dari konsistensi melakukan hal-hal yang biasa.
Terserah orang menyebut apa terhadap hal yang saya lakukan. Saya berjalan pada sebuah keyakinan, pada sebuah arah tujuan. Saya berjalan pada sebuah bingkai cita-cita perubahan, namun saya hanyalah seorang manusia yang penuh keterbatasan. Isteri saya hanyalah seorang perempuan biasa, sangat biasa, yang memiliki sangat banyak kekurangan. Anak-anak saya hanyalah anak-anak yang terlahir dari sejarah pernikahan, dan mereka menjadi dirinya yang tidak bisa dibebani dengan harapan orang atas ayah mereka. Namun dengan segala titik kelemahan dan kekurangan kemanusiaan tersebut, saya selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang mampu saya lakukan. Memproduksi kebajikan semaksimal kesanggupan yang ada pada saya.
Tidak bolehkah memiliki pilihan sederhana seperti ini ? Haruskah kita memilih menjadi pahlawan tanpa cela, atau sekalian memilih menjadi pecundang yang dicela serta dilaknat seluruh media ? Sedih sekali hidup kita, jika terbelenggu oleh “apa kata orang kepada kita”. Sedih sekali, jika hidup kita harus menyesuaikan dengan selera media. Sempit sekali dunia, jika kita harus menjadi sosok-sosok utopis yang diimpikan para pemuja epos kepahlawanan dunia. Hingga orang tidak berani berbuat dan berkata apa-apa, karena takut dilaknat media. Hingga orang takut melakukan upaya perbaikan semampu yang dia bisa, karena takut dicela massa.
Setiap hari berseliweran sms, mengkonfirmasi berita ini dan itu di media massa. Mencela, melaknat, mencaci maki, menghakimi semau sendiri, memastikan keburukan orang, mengimani berita media massa tentang perilaku seseorang. Sms berseliweran tanpa tuan, menghakimi tanpa persidangan, memutuskan tanpa penjelasan, memastikan tanpa pertanyaan, menuduh tanpa kelengkapan persyaratan, membunuh karakter tanpa alasan. Semua orang ketakutan, semua orang gelisah, tiarap, takut dirinya tengah dirilis media. Takut dirinya tengah dibicarakan koran. Takut dirinya menjadi berita utama di sms yang berseliweran setiap detik, setiap kesempatan.
Seakan dunia telah kiamat, saat seseorang pejuang dituduh melakukan kesalahan. Seakan kebaikan telah hilang, saat sosok pahlawan yang diidamkan teropinikan melakukan pelanggaran. Hancur sudah dunia kepahlawanan, habis sudah sejarah para pejuang, tamat sudah riwayat para pembela kebenaran. Hari ini juga semua jiwa telah binasa. Kita menjadi orang yang berlebih-lebihan melihat, menanggapi, mengomentari segala sesuatu. Baru running text, baru rilis koran, baru kilas berita televisi dan cybermedia. Tiba-tiba sms sudah menyebar kemana-mana. Tiba-tiba kepercayaan sudah sirna. Tiba-tiba kehangatan sudah tiada. Berpuluh tahun kita merajutnya. Hilang sesaat begitu saja ?
Inilah sisi kepedihan dalam setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Setiap pahlawan, setiap pejuang selalu dihadapkan kepada kondisi-kondisi kemanusiaan yang sulit dimengerti para pemuja mereka. Media telah menghukum tanpa ampunan. Headline setiap hari. Heboh, bombastis, sinistis. Mematikan hati yang terlalu ciut menerima kritik dan lontaran tajam. Mematikan semangat yang terlampau dingin untuk melakukan berbagai kebajikan. Cita-cita dan tujuan seakan sudah terlupakan oleh opini koran dan berita harian.
Silakan tidur dan berhenti dari kebaikan, maka para setan akan pesta pora merayakan kemenangan. Silakan menyesal menempuh jalan panjang bernama kebajikan, tempuh jalan lain yang lebih menyenangkan pemberitaan. Hanya itukah tujuan kita ? Mendapat pujian, mendapat pengakuan, mendapat ucapan selamat dan penghargaan atas kesantunan, kesalehan, kebaikan, kejujuran, dan kebersihan yang ditampilkan ? Tidak siap mendengar kritik tajam, caci maki, cemoohan masyarakat dan media massa ? Tidak kuat mendengar ledekan, tertawaan, gunjingan, dan kekesalan orang ?
Adakah anda rasakan kesedihan yang saya tuliskan ? Kesedihan di setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Kesedihan yang tidak bisa dibagi dengan para pemuja pahlawan. Kesedihan yang harus dikunyah dan dinikmati sendiri oleh setiap orang yang berjuang dalam kebaikan. Jika anda merasakan, saya ajak anda menyublimkan kesedihan itu menjadi sebuah karya nyata, sekecil apapun yang kita bisa.
Menyublimkan kepedihan menjadi amal kebaikan berkelanjutan yang kita lakukan dalam setiap tarikan nafas. Jangan menguapkannya, karena jika diuapkan kesedihan hanya akan hilang namun tidak menghasilkan karya. Ya, anda harus menyublimkan kepedihan ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Menjadi sesuatu yang menyemangati diri. Menjadi sesuatu yang menasihati. Menjadi sesuatu yang bernilai abadi. Menjadi sesuatu yang bernama kontribusi.
Setiap cemoohan dan ejekan akan menambah kesedihan di hati para pejuang. Setiap ketidakberhasilan akan menggoreskan kegetiran pada dada setiap pejuang. Kesedihan itu harus disublimasi menjadi karya yang berarti. Setiap hari kita telah terbiasa menumpuk kelelahan, kesedihan, kegetiran, kepedihan, dari yang terkecil hingga yang paling dalam. Menyublimkan kegetiran akan mengubahnya menjadi kerja nyata bagi bangsa dan negara. Apa artinya dipuji-puji jika tidak memiliki kontribusi yang berkelanjutan ? Apa salahnya dicaci maki jika itu memacu kontribusi yang lebih berarti bagi perbaikan ?
Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya. Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri. Keyakinan ini tak bisa ditawar lagi. Tuhan telah mengumandangkan, hal jaza-ul ihsan illal ihsan. Apakah kita tetap juga tidak memahami ?
Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti.
Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan 9 April 2011
Penulis : Cahyadi Takariawan










