Zuhrif Hudaya: DAKWAH DAN MANUSIA [1]
By pks kraton 18.33 Inspirasi , Tarbiyah , Zuhrif
Zuhrif Hudaya: DAKWAH DAN MANUSIA [1]: Memanusiakan manusia itulah cita-cita partai dakwah. Menempatkan manusia pada posisi yang terhormat dan terlindungi. Selengkapnya...
Perilaku Buruk yang Memangsa Kebaikan
By pks kraton 04.55 Tarbiyah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak mermliki harta benda”. Kemudlan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan
kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zhalimi) ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka.” (Riwayat Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)
Hendaknya kita menjaga segenap anggota tubuh kita dari menyakiti dan merampas hak orang lain. Sebab, boleh dia tidak menuntut di dunia, tapi memperkarakannya di akherat. Ketidakadilan yang dialami oleh si-lemah terpaksa sering diterima karena mau protes bagaimanapun tetap sebagai pihak yang kalah, bahkan di mata hukum di negara yang melabelkan diri sebagai negara hukum ini.
Hadits yang mulia ini memberikan pelajaran berharga yang amat banyak pada kita , di antaranya:
1. Bertanya jawab merupakan cara efektif dalam memperoleh ilmu, karena ilmu yang dijelaskan oleh seorang guru/pengajar dengan cara ini akan mudah diingat dan diserap oleh murid. Mengenai hadits yang berisi tanya jawab, maka jumlahnya cukup banyak, seperti hadits Jibril yang mengajarkan kaum Muslimin tentang Iman, Islam, Ihsan dan tanda-tanda hari Kiamat dan hadits-hadits yang lainnya.
2. Hendaklah kita berhati-hati terhadap peringatan dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena setiap larangan dan peringatannya berdampak sangat berat, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. ” (QS. An-Nur/24:63).
Maka bersegeralah memenuhi panggilan dan seruan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam, karena umat yang tanggap terhadap perintah dan seruannya dijamin masuk surga. Beliau bersabda, “Setiap ummatku dijamin masuk surga kecuali orang yang enggan”. Para shahabat bertanya, “Siapa yang enggan masuk surga ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang mena’atiku pasti masuk surga dan siapa yang durhaka kepadaku itulah orang yang enggan masuk surga” (HR. al-Bukhari dan selainnya).
3. Seorang hamba yang membawa pahala shalat, zakat, puasa dan ibadah lainnya belum tentu bisa menikmati pahala-pahalanya tersebut di akhirat kelak kalau dia suka menzhalimi orang lain ketika hidup di dunia. Sebab orang-orang yang terzhalimi akan datang ke hadapan Allah subhanahu wata’ala untuk menuntut orang yang menzaliminya, lalu pahala-pahala orang yang berbuat zhalim itu dilimpahkan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi, sehingga seluruh pahalanya habis dan tiada satu pun yang tersisa untuknya. Namun masih ada orang yang datang kepadanya untuk menuntut, sehingga Allah subhanahu wata’ala pun melimpahkan dosa-dosa orang tersebut untuk dipikulnya. Maka akhirnya dia memikul dosa-dosa orang lain lalu dia dilemparkan ke dalam neraka, wal’iyâdzu billâh.
4. Orang bangkrut yang sebenar nya bukanlah orang yang bangkrut ketika hidup di dunia ini, tapi bangkrut pada hari Kiamat kelak, sebab kebangkrutan di dunia ini masih bisa diatasi dan pasti ada jalan keluarnya kalau dia menghadapinya dengan ketaqwaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” (QS. 65:2). Dan dalam lanjutan ayat, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65:4).
Adapun kebangkrutan pada hari Kiamat kelak tidak ada solusinya dan tiada jalan keluar yang bisa dilakukan selain dilempar dan dibenamkan ke dalam neraka, wal’iyâdzu billâh.
5. Jangan menyia-nyiakan pahala amal ibadah dengan melakukan tindakan zhalim pada orang lain yang akan menyebabkan kebangkrutan di hari Kiamat kelak. Karena pada intinya tidak ada hutang yang gratis, orang yang berhutang pasti membayar hutangnya, baik secara tunai di dunia atau dibayar nanti di akhirat kelak dengan pahala. Dan semua bentuk kazhaliman harus segera diselesaikan ketika nyawa masih menyatu dengan jasad kita, karena kalau tidak segera diselesaikan maka akan mengakibat kan seseorang bangkrut di akhirat kelak, wal’iyâdzu billâh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa melakukan kezhaliman pada saudaranya atas kehormatannya atau apa pun bentuknya, maka hendaklah dia minta kehalalan atas tindakan zhalimnya itu selagi hidup pada hari ini (di dunia ini) sebelum dinar dan dirham (harta kekayaan) tidak bermanfaat lagi, (jika tidak) maka (di akhirat kelak) amal shalihnya diambil sesuai kadar kezhaliman (untuk tebusannya), dan jika dia tidak memiliki amal shalih, maka diambil sebagian dosa-dosa saudaranya lalu dibebankan padanya” (HR. al-Bukhari)
6. Bentuk-bentuk tindakan zhalim yang menyebabkan kebangkrutan pada hari Kiamat kelak banyak sekali, di antaranya sebagai berikut:
Tidak menjaga lisannya dari mencela, menghina, mencerca, mencaci maki, menggunjing, mengadu domba, memfitnah, menuduh, mencari-cari kesalahan orang lain dan lain-lainnya. Secara umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, tanpa dia sadari Allah mengangkat derajatnya karena ucapannya itu, dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, tanpa dia sadari Allah menjebloskan dia ke dalam neraka karena ucapannya itu” (HR. Al-Bukhari). Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Bukanlah akhlaq seorang mukmin melakukam tha’an, melaknat, dan mengucapkan perkataan yang keji lagi kotor”. (HR.al-Bukhari).
Tha’an adalah tindakan zalim dari seorang yang suka merendahkan kehormatan orang lain, suka mencela, mencaci, menghina, menggunjing, mengadu domba, memfitnah dan lain sebagainya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ”Mencaci maki seorang muslim adalah tindakan fasik dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR.Muslim). Diriwayatkan dari Tsabit adh- Dhahak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Melaknat seorang mukmin itu seperti membunuhnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dosa menggunjing (menyebut kejelekan orang lain) digambarkan oleh Al-Qur`an seperti seorang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Karena itu janganlah engkau jadikan daging saudaramu sebagai santapan, kehormatannya sebagai minuman bagimu, ‘aib dan kekurangan nya sebagai buah-buahan dan manisan yang menyempurnakan hidangan majlismu.
Mengambil hak saudaranya dengan cara yang batil dan sewenang-wenang; seperti memakan harta saudaranya, tidak membayar hutang kepada saudaranya, menyerobot tanah saudaranya, menipu dalam jual beli, tidak amanah dalam tugas dan pekerjaan, menipu dan bersumpah palsu untuk mendapatkan sesuatu dan lain sebagainya.
Menumpahkan darah saudara nya tanpa alasan yang haq, karena kehancuran dunia dan seisinya jauh lebih ringan daripada tertumpahnya darah seorang muslim (dengan cara yang bathil). Memerangi saudaranya sesama muslim merupakan bentuk kekufuran, balasan bagi orang yang membunuh saudaranya adalah neraka, dan lain sebagainya bentuk ancaman bagi siapa saja yang menumpahkan darah saudaranya dengan cara yang bathil.
Menyakiti orang lain baik dengan cara memukul, melukai fisik, perasaan dan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Seorang muslim yang baik adalah yang menjaga tangan dan lisannya sehingga tidak menyakiti saudara muslimnya yang lain” (HR. al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya)
Dan masih banyak lagi bentuk kezhaliman yang bisa menyebabkan seseorang bangkrut di hari Kiamat kelak.
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga kita dari tindakan zhalim, mengampuni segala kekeliruan dan dosa-dosa kita, dan marilah kita mengingat-ingat apakah kita pernah menzhalimi orang lain? Kalau pernah mari segera kita selesaikan selagi nyawa kita masih menyatu dengan jasad kita, sebelum matahari terbit dari barat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan.
Sebagai penutup mari kita renungi firman Allah subhanahu wata’ala berikut ini, ”Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri.” (QS. an-Nisaa’:111).
Dikutip dari : http://zainurihanif.com/2012/05/17/perilaku-buruk-yang-memangsa-kebaikan/
Jika Kecewa Melanda Hati (untukku, kamu, dia, mereka, kita semua)
By pks kraton 07.11 Media , Tarbiyah
Dari Ji'ranah Kita Belajar tentang Kecewa
Di Ji'ranah hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan. Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.
Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya: merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry. Maka, hari itu di Ji'ranah, ada yang kasak-kusuk, "Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri!" Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.
Hari itu juga utusan Anshar, Sa'd bin Ubadah menemui Sang Rasul. Hatinya gusar. Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau. Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan. Sa'd bin Ubadahlah yang memberanikan diri. "Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang. Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apap pun."
Kita menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun. Ada kecewa tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan. Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.
"Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa'd?" tanya Sang Rasul. "Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku." Jawab Sa'd menjelaskan perasaannya. Jujur. Apa adanya. Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa. Rasulullah lalu meminta mengumpulkan semua orang Anshar. Pada mereka Rasul menenangkan.
"Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk? Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian? Bukankah dulu saat
aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian?" Orang-orang Anshar itu membenarkan. Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak
balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan. Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa. Saya bayangkan hari itu di Ji'ranah. Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.
"Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan, 'Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami
menolongmu. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu." Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak. Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu. Saya bayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh. Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.
"Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia?" tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat. Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam." Rasul mulai
menjelaskan alasan kebijakannya. Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam. "Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya."
Kata-kata itu begitu dalam dan jujur. Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan. Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan, "Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba,
sementara kalian pulang bersama Rasul Allah?" Sebuah perbandingan yang kontras. Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba. Tangis para sahabat meledak. Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan
kesadaran setelah kekecewaan? Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.
Kisah di atas teramat panjang. Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan. Setiap kita mungkin pernah kecewa. Sebabnya bisa bermacam-macam. Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain; apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun. Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai.
Astaghfirullah...
Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan. Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami. Dalam organisasi dakwah, kekecewaan bisa juga muncul. Di ruang-ruang kerja, kekecewaan
dapat juga timbul. Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba. Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa. Sebagian di
antaranya menyikap dengan ngambek serta 'mutung.' Sebagian yang lain menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak.
Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kekuatan iman kita. Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas. Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita. Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga emosi. Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal.
Di Ji'ranah hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan. Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.
Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya: merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry. Maka, hari itu di Ji'ranah, ada yang kasak-kusuk, "Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri!" Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.
Hari itu juga utusan Anshar, Sa'd bin Ubadah menemui Sang Rasul. Hatinya gusar. Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau. Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan. Sa'd bin Ubadahlah yang memberanikan diri. "Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang. Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apap pun."
Kita menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun. Ada kecewa tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan. Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.
"Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa'd?" tanya Sang Rasul. "Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku." Jawab Sa'd menjelaskan perasaannya. Jujur. Apa adanya. Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa. Rasulullah lalu meminta mengumpulkan semua orang Anshar. Pada mereka Rasul menenangkan.
"Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk? Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian? Bukankah dulu saat
aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian?" Orang-orang Anshar itu membenarkan. Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak
balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan. Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa. Saya bayangkan hari itu di Ji'ranah. Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.
"Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan, 'Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami
menolongmu. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu." Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak. Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu. Saya bayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh. Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.
"Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia?" tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat. Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam." Rasul mulai
menjelaskan alasan kebijakannya. Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam. "Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya."
Kata-kata itu begitu dalam dan jujur. Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan. Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan, "Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba,
sementara kalian pulang bersama Rasul Allah?" Sebuah perbandingan yang kontras. Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba. Tangis para sahabat meledak. Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan
kesadaran setelah kekecewaan? Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.
Kisah di atas teramat panjang. Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan. Setiap kita mungkin pernah kecewa. Sebabnya bisa bermacam-macam. Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain; apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun. Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai.
Astaghfirullah...
Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan. Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami. Dalam organisasi dakwah, kekecewaan bisa juga muncul. Di ruang-ruang kerja, kekecewaan
dapat juga timbul. Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba. Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa. Sebagian di
antaranya menyikap dengan ngambek serta 'mutung.' Sebagian yang lain menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak.
Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kekuatan iman kita. Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas. Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita. Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga emosi. Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal.
Adab Berbicara
By pks kraton 23.36 Tarbiyah
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq 'alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:
“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)
ADAB MENDENGAR
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
"Aku adalah pemimpin pada sebuah tempat di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar". [1]
Al Miro' adalah jidal/berdebat.
- Dilarang membuat orang tertawa dengan cara berbohong. sebagaimana sabda Rasulullah r:
"Celaka orang yang berbicara kemudian berbohong supaya orang-orang menertawakannya celaka baginya, celaka baginya".[2]
Semestinya seseorang meninggalkan banyak tertawa, sebagaimana sabda Rasulullah r:
لاَ تُكْثِرُوْا مِنَ الضَّحِكِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ
"Janganlah kalian banyak tertawa sebab banyak tertawa menyebabkan matinya hati".[3]
- Apabila seseorang berbicara dengan saudaranya kemudian dia menoleh kepadanya maka itu adalah amanah sebagaimana sabda Rasulullah r:
"Bilamana seorang membicarakan sesuatu kemudian dia menoleh kepadanya maka itu adalah amanah".[4]
- Mendahulukan orang yang lebih tua dalam berbicara, dan berbicara harus dengan suara yang terang dan tidak rendah serta harus dengan kalimat yang jelas yang dapat dipahami oleh semua orang dengan tidak mengada-ada dan berlebih-lebihan.
- Tidak memotong pembicaraan orang lain, sebagaimana yang diceritakan tentang Nabi r yang berbicara dengan kaumnya lalu masuk kepadanya seorang badui, kemudian bertanya kepadanya tentang hari kiamat, namun Rasulullah tetap meneruskan pembicaraannya bersama para shahabat, setelah selesai beliau berkata: “Manakah orang yang sebelumnya bertanya tentang hati kiamat?, maka barulah beliau menjawab pertanyaan orang tersebut.[5]
- Berbicara dengan pelan-pelan dan tidak pula tergesa-gesa, sebagaimana diceritakan tentang Nabi r bahwa apabila beliau bicara dengan tentang sesuatu, seandainya ada orang yang menghitung ucapannya nya niscaya dia bisa terhitung).[6] Dan Rasulullah r tidak berbicara secara terus menerus, beliau bicara dengan suatu kalimat yang dan dan terperinci sehingga orang yang mendengarnya menjadi hafal.[7]
- Berbicara dengan suara, pelan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَاغْضُضْ مِنْ َصوِْتكَ "Pelankanlah suaramu". [8]
- Menjauhi kata-kata yang haram, seperti mengkafiran orang lain, bersumpah dengan selain nama Allah, perkataan seseorang: “Celaka manusia”, bersumpah dengan thalak serta mencaci maki masa.
- Meninggalkan mementingkan diri sendiri dalam berbicara.
- Tidak menceritakan tentang pribadi untuk membanggakan diri sendiri sebagaimana firman Allah I: فَلاَ تُزَكُّـوا أَْنفُسَكُمْ
- juga tidak mengagungkan diri sendiri dengan mengatakan aku, kami berpendapat dan sebagainya.
- Menjaga perasaan orang lain, Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata: “Di antara mereka ada orang yang dirasuki oleh dorongan semangatnya (ruh) ini adalah keadaan yang berat lagi dibenci, dia adalah wujud akal yang tidak pantas berbicara untuk memberikan manfaat bagimu, atau tidak bisa berdiam dengan baik sehingga bisa mengambil pelajaran darimu, serta tidak mengetahui dirinya sendiri sehingga bisa menempatkan dirinya pada tempatnya.
- Tidak mengungkapkan cacian kepada khalayak.
- Hendaknya ia meninggalkan beberapa hal di bawah ini:
- Banyak bertanya dan sengaja mengada-ada pertanyaan tersebut sebagaimana sabda Nabi r:
"Dan membenci tiga hal dari kalian salah satunya adalah cerewet dalam bertanya".[10]
- Tergesa-gesa memberikan jawaban.
- Tergesa-gesa memberikan pendapat, baik dalam hal yang kecil atau yang besar.
- Sibuk mengahadapi orang-orang randah dan hina.
- Berbicara tidak sesuai dengan keadaan.
منْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ َترْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ
"Dari kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya".[11]
- Berbicara disamping orang yang tidak menyukainya.
- Mengulang-ulangi omongan.
- Meninggikan diri terhadap orang yang mendengarkan omongan.
- Tidak mendengarkan orang lain yang berbicara dengan baik.
- Menganggap remeh terhadap pembicaraan orang lain.
- Meminta orang lain untuk mempercepat menyelesaikan perkataannya.
- Meninggalkan orang padahal seseorang belum menyelesaikan perkataannya.
- Tergesa-gesa memvonis orang yang berbicara sebagai pembohong.
- Menyepelekan perkataan orang yang masih muda belia.
- Tergesa-gesa menyebarkan suatu berita sebelum nampak fakta yang kongkrit (tentang kebenaran berita tersebut) dan belum jelas manfaat menyebarkannya.
- Mendengarkan dan menerima perkataan orang secara langsung tanpa menyaring dan menseleksi kebenaran berita tersebut.
- Kasar dalam memanggil orang. Allah I berfirman:
"Katakanlah kepada hamba-hambaku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang baik (benar), sesungguhnya syaitan menimbulkan perselisihan diantara mereka, sesungguhnya syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia".[12]
Pada ayat yang lain Allah I berfirman:
وَقُوْلُوْا ِللنَّاسِ حُسْنًا"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia".".[13]
- Kasar dalam mencela.
- Tidak mengetahui adab berdiskusi.
- Tidak menghiraukan perasaan orang lain.
- Bersikap apriori terhadap teman bicara.
- Bergaya bahasa menantang dan menyerang.
- Masa bodoh dengan nama teman bicara.
- Mengabaikan prinsif-prinsif yang benar.
- Ngotot dengan kesalahan dan enggan kembali kepada yang hak.
- Tidak menguasai materi diskusi.
- Memvonis saat diskusi berlangsung.
- Bercabang dalam judul pembicaraan dan keluar dari fokus semula.
- Senang membantah dan bertentangan.
- Tenggelam dalam membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat.
- Banyak saling mencela.
- Banyak mengeluh kepada orang-orang.
- Banyak membicarakan tentang perempuan.
- Banyak bermain-main/senda gurau.
- Banyak bercanda.
- Banyak bersumpah, Allah I berfirman:
- وَاحْفَظُوْا أَيْمَانَكُمْ "Jagalah sumpah-sumpah kalian".[14]
- Mencari-cari kesalahan teman duduk.
- Menampakkan kebosanan terhadap teman duduk.
- Membebankan teman duduknya untuk melayaninya.
- Melakukan suatu hal yang bertentangan dengan rasa di dalam majlis seperti membersihkan gigi dengan tusuk gigi, meludah di hadapan orang banyak, terbahak-bahak, dan memain-mainkan kumis serta jenggot.
- Melakukan kemungkaran di dalam majlis.
- Menghadiri majlis yang di dalamnya terdapat kemungkaran dan menemani mereka melakukan hal tersebut.
- Duduk dengan posisi yang tidak mencerminkan sopan santun.
- Duduk di tengah-tengah lingkaran orang banyak.
- Memaksakan diri berbicara secara fasih sebagaimana Rasulullah r bersabda:
"Akan ada suatu kaum dimana mereka makan dari hasil lisan-lisan mereka sebagaimana sapi memakan makanan dari bumi".[15]
- Janganlah membawa suatu perkataan apabila engkau tidak bisa membawakannya seperti yang sebenarnya".
- Senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk menutup aib saudara semuslim, hal ini sebagaimana di beritakan oleh Rasulullah r:
"Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba yang lainnya di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat nanti".[16]
- Menjaga agar tidak menamai dengan gelar-gelar yang jelek sebagaimana Allah berfirman: وَلاَ تَنَابَزُوْا بِاْلأَلْقَابِ
dan firman Allah I pula:
وَيْلٌ ِلكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
"Celaka bagi pengumpat lagi pencela"[18]
Rasulullah r bersabda:
بِحَِسَبٍ اْمرِئٍ مِنَ الشَّـرِّ أَنْ َيحْقِـرَ أَخَاهُ اْلمُسْلِمَ
"Cukuplah seseorang berbuat dosa yaitu mengejek saudaranya yang muslim".[19]
- Apabila seseorang berbicara dengan suatu kaum, maka tidak boleh baginya mengarahkan pandangannnya kepada orang tertentu tanpa yang lainnya.
- Apabila seseorang salah dalam mengatakan suatu perkataan walaupun perkataan itu mengandung kekufuran dimana lisannya ceroboh dengan ucapan tersebut, maka janganlah perkataan tersebut dijadikan sebagai modal untuk menjelekannya. Dalil yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim bahwasanya Rasulullah r bersabda:
"Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat seorang hambaNya tatkala ia bertaubat kepadaNya dari seseorang yang bersama hewan tunggangannya di suatu padang yang luas, kemudian hewan itu menghilang darinya sedangkan makanan dan minumannya ada padanya. Lalu ia merebahkan badannya dibawah pohon karena telah putus asa dengan hewannya itu. Namun, tatkala dia bangun, tiba-tiba hewan tersebut berdiri dihadapannya, kemudian ia mengambil tali pengikatnya sambil berkata dengan perasaan yang sangat bahagia: “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanMu”, Ia salah mengucapkannya karena kegembiraannya".[20]
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
[1] HR.Abu daud no:4800 dan dihasankan oleh Al Albani
[2] HR.Abu daud no: 4990 dan dihasankan oleh Al Alban
[3] HR.Ibnu Majah no:4193 dan di shohehkan oleh Al Albani
[4] HR. Abu daud no:4878 dan dihasankan oleh Al Albani
[5] HR. Bukhari no:59
[6] HR. Bukhari no:3568
[7] HR. Ahmad no:25677
[8] QS. Lukman:19
[9] QS. An Najm:32
[10] HR.Muslim no:1715 Ahmad juz 2 hal 27
[11] HR.At-Turmudzi no:1887dan dihasankan Al Albani
[12] QS. Al Isra:53
[13] QS. Al Baqoroh:83
[14] QS.. Al Maidah( 4):89)
[15] HR.Shohih Al Jami'
[16] HR.Shohih Al Jami'
[17] QS.Al Hujurat:11
[18] QS Al Humazah:1
[19] HR.Shohih Al Jami'
[20] HR. Muslim no:2747 kitab At Taubah






