Mewaspadai Virus Tamayyu’
By pks kraton 09.20 Tarbawi
Oleh: Abu Muhammad Hisan
Interaksi sosial adalah keniscayaan dalam berdakwah. Menjadi tuntutan bagi para da’i untuk terjun di tengah-tengah masyarakat, melakukan kontak dan komunikasi dengan sebanyak mungkin manusia.
Melalui interaksi sosial tersebut diharapkan akan banyak individu atau masyarakat yang merasa tertarik dan mau melaksanakan nilai-nilai yang diajarkan oleh para da’i, sehingga sikap, tindakan, dan tingkah laku individu dan masyarakat tersebut terwarnai oleh nilai-nilai ajaran Islam.
Ada satu hal yang harus diwaspadai oleh para da’i dalam melakukan interaksi sosial, terlebih lagi jika kontak dan komunikasi sosial tersebut dilakukan dalam lingkungan masyarakat yang memiliki karakter, budaya, nilai, ideologi, dan agama yang berbeda, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mereka perjuangkan. Dalam kondisi seperti itu para da’i harus berhati-hati dan menjaga diri dari serangan virus tamayyu’ (pencairan), yakni kondisi dimana seorang da’i malah terpengaruh oleh gaya, pemikiran, kebiasaan, budaya, ideologi yang dimiliki oleh individu atau masyarakat yang didakwahinya; lalu secara lambat laun mulai meninggalkan idealisme yang dianutnya. Naudzubillahi min dzalik…
Tamayyu’ Khuluqi
Tamayyu’ yang pertama kali muncul biasanya adalah tamayyu khuluqi, pencairan akhlak. Ditandai dengan munculnya sikap tasahul (menggampangkan/menyepelekan suatu pelanggaran). Dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya:
Melakukan isyraf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum.
Berlebih-lebihan dalam gaya berpakaian.
Menyepelekan rambu-rambu hijab.
Berlebih-lebihan dalam menikmati musik, nyanyian, dan tontonan.
Longgar atau tidak berhati-hati dalam mu’amalah maaliyah
Terlalu banyak tertawa dan bergurau.
Sampai akhirnya munculah sikap ibahiyah (permissive/segala hal boleh) tanpa sungguh-sumgguh memperhatikan rambu-rambu syariat.
Tamayyu’ ‘Ubudiyyah
Jika tamayyu’ khuluqi tersebut tidak segera diobati, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah tamayyu’ ‘ubudiyyah, pencairan amal ibadah. Ditandai dengan menyepelekan amalan-amalan sunnah atau bahkan amalan-amalan wajib. Misalnya:
Malas qiyamu lail.
Meremehkan shalat-shalat sunnah rawatib.
Semakin jarang shalat berjama’ah di masjid.
Sering melaksanakan shalat wajib tidak tepat waktu.
Sering terlambat melaksanakan shalat shubuh.
Malas melakukan shaum-shaum sunnah
Sedikit menyebut nama Allah/ wirid dan dzikir.
Sedikit membaca al-Qur’an.
Tamayyu’ Fikriyyah
Berikutnya dari tamayyu’ ‘ubudiyah akan merembet kepada tamayyu’ fikriyyah, pencairan ideologi. Diantaranya ditandai dengan hilangnya ciri khas fikrah Islami dari seorang da’i. Bahkan pemahamannya terhadap fikrah islami tersebut semakin lemah dan luntur. Warna pemikirannya menjadi tidak jelas, apakah ia seorang abnaul harakah islamiyah, ataukah seorang liberalis, sosialis, atau nasionalis? Dari pembicaraannya tidak dapat diketahui lagi apakah ia meyakini Islam sebagai satu-satunya jawaban yang benar dan bersih terhadap persoalan manusia, ataukah menurutnya ada jawaban yang lain? Tidak jelas apakah ia meyakini Islam sebagai sistem yang sempurna dan lengkap ataukah tidak?
Tamayyu’ Aqidiyah
Tamayyu’ yang terparah adalah tamayyu’ aqidiyah, pencairan aqidah. Sebuah kondisi dimana seseorang sudah benar-benar jauh menyimpang, karena tidak lagi memahami Islam sebagai satu-satunya kebenaran yang mesti dianut seluruh manusia. Padahal Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (Q.S. Ali Imran: 19)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran: 85)
Virus tamayyu’ ini dapat dihindari jika para da’i memiliki imunitas dan senantiasa meningkatkan kualitas dirinya.
Naudzubillahi min dzalik…wa la haula wala quwwata illa bi-Llaah…
Meraih Kemenangan di Mata Allah
By pks kraton 20.43 Tarbawi , tsalasah
Oleh: KH. Hilmi Aminuddin
Dakwah ini adalah proyeknya Allah, dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) rabbaniyyah wa-nnabawiyah (Rabb dan Nabi), kita akan dimenangkan oleh Allah SWT, insya Allah…
Karena dengan selalu disiplin terhadap manhaj rabbani, dengan taujihat rabbaniyyah, irsyadat rabbaniyah yang diberikan Al-Qur’an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.
Ikhwan wa akhwat fillah…meraih kemenangan di mata Allah harus menjadi target utama dan pertama sebelum meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Na’udzubillah, kalau meraih kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah, maka faqad khasira khusraanan mubiina. Rugi serugi-ruginya.
Saya pernah menjelaskan rumusan kemenangan rabbani yang sangat sederhana, seperti disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang mengatakan bahwa definisi kemenangan itu adalah ‘Maa laazumul haqqu qulubana’ artinya: ‘selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita.” Luzumul haq fi qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam percaturan, pertempuran, apakah ma’rakah siyasiyah, ma’rakah fikriyah, atau ma’rakah intikhabiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Provinsi, Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama yang harus diraih adalah kemenangan menurut penilaian Allah.
Insya Allah, jika kita dinilai Allah sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia. Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target kemenangan-kemenangan pilkada atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi gubernur, bupati, walikota, bahkan presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam posisi itu adalah hasil kecurangan, kezaliman dan ketamakan, maka maghlub ‘indallah, itu kalah menurut Allah.
Sebab ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kebenaran dari hati. Tercerabutnya amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, tercerabutnya kejujuran dari hati. Itu adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu kader-kader yang sudah memasuki lembaga-lembaga Negara, yang jadi gubernur atau wagub, atau walikota, atau wakil, agar mempertahankan kemenangan di sisi Allah dalam posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak) mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar manusia. [ ]
Assassinasi PKS Dalam Renungan Kisah Yusuf AS (Ayat 7-10)
By pks kraton 22.08 Tarbawi , Tsaqofah
Dakwatuna.com - Tulisan ini bukan untuk menafsirkan surat Yusuf, tapi hanya untuk menunjukkan adanya kemiripan antara yang terjadi pada diri Nabi Yusuf AS dengan yang terjadi pada PKS hari-hari ini. Semoga bisa menambah keyakinan.
Kisah yang Menguatkan Iman
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ (7)
“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” [Yusuf: 7].
Melalui mimpi, Nabi Yusuf diberi isyarat akan menjadi seorang nabi dan penguasa besar di Mesir. Ketika Allah berkehendak, pasti kehendak-Nya akan terwujud. Walaupun jalan menuju terwujudnya kehendak tersebut panjang, berliku, dan banyak yang berusaha menghalanginya. Kehendak Allah SWT memaksakan, tidak ada yang menghalanginya. Kehendak Allah SWT tanpa ketentuan, terserah kepada Allah SWT bagaimana cara dan jalan mewujudkan kehendak-Nya.
Bahkan semakin berliku dan penuh kejutan, kisah itu semakin indah. Oleh karena itu, kisah Yusuf AS disebut sebagai (أحسن القصص) “Kisah yang paling baik.”
Hasad Membutakan
Allah SWT berfirman:
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (8)
“(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” [Yusuf: 8]
Saudara-saudara Yusuf AS dimakan penyakit hati berupa hasad, iri hati. Merasakan bahwa Yusuf AS mendapatkan perhatian yang lebih dari sang ayah, Nabi Ya’qub AS Mereka ingin mendapatkan perhatian seperti Yusuf AS Sebenarnya mudah untuk mendapatkan hal itu. Tinggal meneliti sebab-sebab Yusuf AS mendapatkannya, laku mencontohnya, pasti perhatian yang sama akan mereka dapatkan. Mereka malah berusaha merusak kondisi; berbuat makar terhadap Yusuf AS dan menuduh Nabi Ya’qub AS sesat.
PKS adalah partai yang mendapat simpati masyarakat sangat baik, karena menjaga syiarnya BERSIH, PEDULI, dan PROFESIONAL. Tak mengherankan jika perolehan suara PKS selalu naik setiap pemilunya. Bahkan qiyadah mencanangkan target 3 besar pada pemilu mendatang. Kalau ada partai lain yang menginginkan simpati yang besar dari masyarakat, hendaknya mencari rahasia kesuksesan PKS tersebut. Niscaya masyarakat pun akan menaruh simpati kepada mereka. Bukan malah men-demarketting dan mengatur konspirasi menghancurkannya.
Ketakutan yang Tak Beralasan
Di antara sebab Yusuf AS dimusuhi saudara-saudaranya, mereka mencium gelagat Yusuf AS akan menjadi penerus kenabian sang ayah. Kalau benar-benar demikian, maka mereka akan menjadi pengikutnya. Padahal mereka adalah (عصبة) “kelompok yang kuat, fanatik” sehingga lebih pantas untuk memimpin.
Banyak yang meyakini PKS lambat-laun akan menjadi partai terbesar di negeri ini. Ini tentu mengkhawatirkan berbagai pihak. Kalau mau jujur, kenapa mereka khawatir? Apa yang menakutkan dari PKS? Bukankah agenda-agenda yang diusungnya adalah demi kebaikan negeri ini? Atau sesuatu yang baik bukanlah kebaikan kalau bukan dari mereka?
Yusuf AS yang Menggemaskan
Yusuf AS saat itu hanyalah seorang anak kecil, berbeda dengan saudara-saudaranya yang sudah dewasa. Sangat wajar kalau seorang ayah lebih mencintai dan memperhatikan anaknya yang masih kecil. Kakak-kakak hendaknya memaklumi kalau wajahnya yang masih innocent (tanpa dosa) dan menggemaskan, membuat semua orang meminatinya. Tidak seharusnya seorang kakak yang sudah kehilangan bening wajahnya mencelakakan adiknya lantaran iri. Atau dia ingin adiknya juga berwajah tua dan bopeng penuh luka.
Tentu banyak yang menaruh harapan kepada PKS yang masih muda, dan bisa mempertahankan kebersihannya dari praktek korupsi. Karena kebanyakan partai sudah bopeng dengan praktek korupsi kadernya. Bukannya mereka bersih-bersih dalam rumah mereka, malah melemparkan kotoran ke rumah orang agar dikatakan rumah kotor. Tak ada bedanya dengan rumah mereka.
Si Kecil Harus Dienyahkan
Allah SWT berfirman:
اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ (9)
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” [Yusuf: 9].
Dengan teganya, mereka berkumpul, dan merencanakan cara mengenyahkan si kecil Yusuf AS Tujuan mereka agar perhatian sang ayah tercurah kepada mereka. Bunuh atau buang di tempat jauh. Sadis. Setelah itu, mereka akan menikmati curahan perhatian sang ayah, atau menjadi orang baik-baik.
PKS tidak pernah memusuhi partai lain. Tapi kenapa ada partai yang memusuhinya? Bahkan dengan teganya membunuh karakter pemimpinnya. Ketika para kader bersih dari praktek korupsi, akankah pemimpin yang pastinya lebih baik, akan berbuat dosa besar politik tersebut? Sangatlah jauh Ust. Luthfi dari sekadar dugaan praktek itu. Sungguh menyakitkan, orang yang sangat bersih dituduh sebagai kotor; partai yang memperjuangkan peternak sapi dan mewujudkan swasembada daging dituduh telah menjadi penyebab melonjaknya harga daging di Indonesia menjadi yang termahal di dunia. Lalu tuduhannya, itu semua disebabkan praktek korupsi yang dijalankan untuk membiayai partai. Sadistis.
Sulitnya Mencari Sumber “Angin”
Ketika merencanakan kejahatan kepada Yusuf AS, disebutkan (اقْتُلُوا يُوسُفَ) “Bunuhlah Yusuf” dan (أَوِ اطْرَحُوهُ) “Atau buanglah dia”. Bukan “Ayo kita bunuh Yusuf” dan “Atau ayo kita buang dia”. Ini menunjukkan bahwa ide kejahatan itu berasal dari satu orang dari mereka. Ada aktor intelektual. Yang lain hanya mengikuti dan melakukannya. Aktor itulah yang paling benci kepada Yusuf AS dan paling berkepentingan pergi jauhnya Yusuf AS
Banyak yang kebakaran jenggot ketika beberapa mas’ulin menyatakan kasus ini murni konspirasi. Karena terasa sekali aromanya. Walaupun sangat sulit mencari dan membuktikan siapa otak di belakangnya, sesulit mencari sumber angin ketika tercium bau tak sedap, seperti yang disebutkan Ust. Hidayat Nurwahid.
Berjuang dengan Cara Kotor
Setan membisikkan pada hati saudara-saudara Yusuf AS, “Lakukanlah kejahatan itu. Setelah disayang ayah, jadilah orang yang baik” (وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ). Godaan yang tidak masuk akal sehat; berbuat kebaikan dengan cara yang jahat. Tapi bagi orang sudah menjadi budak setan, pasti akan diikuti saja. Nabi Adam AS saja bisa lupa ketika dinasihati memakan buah khuldi demi mendapat kemuliaan seperti malaikat [Al-A’raf: 12].
Bagaimana mungkin sebuah partai akan berjuang demi kebaikan negara ini, jika kekuasaannya diraih dengan cara menjahati partai-partai lain. Kekuasaan yang didapatkan pasti akan digunakan untuk melakukan kejahatan yang semakin banyak. Partai seperti ini tidak bisa diharapkan sama sekali kontribusinya untuk Indonesia.
Optimislah, Akan Ada yang Membelamu
Allah SWT berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (10)
“Seseorang di antara mereka berkata: Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.” [Yusuf: 10].
Saat mereka berbulat-tekad akan membunuh Yusuf AS, salah seorang dari mereka mencegah, “Janganlah kamu bunuh Yusuf.” Tapi mata saudara-saudaranya masih merah membara, nafsu membunuh masih menyala-nyala. Oleh karena itu, dia menurunkan tawaran, “Tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir.”
Insya Allah, masih banyak orang yang tidak setega itu melakukan konspirasi. Konspirasi dan ketidakadilan yang dialami PKS malah menarik simpati banyak kalangan. Banyak sekali sms dan telepon dukungan diterima saudara-saudara kita di pusat dan daerah. Mereka prihatin dengan kejahatan politik yang sangat menjijikkan ini, sehingga terdorong untuk membela PKS demi kemaslahatan negeri ini.
Semoga kita sabar dan ridha seperti Nabi Yusuf AS dalam menekuni satu-persatu liku-liku jalan dakwah ini. Sehingga kita pun akhirnya sebahagia beliau ketika diberi kemenangan yang mengejutkan dari Allah SWT.
Islam Adalah Kekuatan
By pks kraton 01.06 Tarbawi
| ABDULLAH BIN QASIM AL WASYLI, SYARAH USHUL 'ISYRIN |
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu,…” (QS. Al- Anfal : 60)
Karena itu, bagi umat Islam kekuatan merupakan sebuah keniscayaan mendasar sebagai konsekuensi yang harus diwujudkan untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, sekaligus merupakan salah satu kewajiban berdasarkan nash-nash Al-Quran maupun Sunah.
Imam Syahid berkata, “Islam tidak melalaikan aspek kekuatan ini, bahkan menjadikannya sebagai salah satu kewajiban yang pasti, serta tidak membedakannya dengan shalat dan puasa dalam hal apapun. Tidak ada satupun sistem di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang yang memberi perhatian besar terhadap aspek ini sebesar perhatian yang Islam berikan kepadanya. Anda telah melihatnya dengan jelas dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu,…” (QS. Al- Anfal : 60)
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)
Pernahkah anda lihat amanat militer dalam Kitab suci yang selalu dibaca ketika shalat, zikir, ibadah, dan munajat seperti amanat yang diawali dengan perintah tegas dalam firman-Nya.
“Hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan di dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah.” (QS. An Nisa’ : 74), kemudian membangkitkan motivasi dan emosi yang paling sensitif dalam jiwa manusia yaitu menyelamatkan keluarga dan kampung halaman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS. An-Nisa’ : 75)
Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kepada mereka betapa luhur tujuan mereka dan betapa rendah tujuan musuh-musuhnya. Hal ini untuk menjelaskan bahwa mereka rela membayar dengan harga yang sangat mahal yaitu kehidupan ini untuk mendapatkan hal yang sangat mahal yaitu keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, sementara pada saat yang sama, kaum selain mereka berperang tanpa tujuan sehingga mereka sangat lemah jiwanya dan sangat kerdil kepribadiannya.
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan taghut. Sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, sesungguhnya tipu daya setan adalah lemah. (QS. An Nisa : 76)
Kemudian Ia subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang pengecut lagi enggan menunaikan kewajiban ini, memilih tugas ringan dan meninggalkan tugas kepahlawanan. Dijelaskannya bahwa sikap mereka itu keliru dan maju dalam pertempuran, tidak akan mendatangkan kemudaratan sedikitpun kepada mereka karena kematian pasti datang dan tidak dapat dihindari. Setelah ayat-ayat di atas Allah berfirman,
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah bahkan takutnya lebih besar dari itu. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?’ Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu meskipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh, dan jika memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini adalah dari sisi Allah’, dan bila ditimpa suatu musibah mereka mengatakan, ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang (munafik) itu, hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.” (QS. An Nisa : 77-78)
Demi Allah, instruksi militer manakah yang sekuat ini, yang mampu membangkitkan tekad, kebesaran, dan keimanan dalam jiwa prajurit sebagaimana dikehendaki oleh komandannya?
Jika tegaknya kehidupan militer dalam tradisi mereka ditentukan oleh dua sendi utama yaitu keteraturan dan ketaatan, keduanya telah Allah himpun pada dua ayat di dalam kitab suci-Nya.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (QS. Ash Shaf : 4)
“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka).” (QS. Muhammad : 21)
Jika Anda membaca seruan-seruan Islam untuk mempersiapkan dan menyempurnakan kekuatan, belajar memanah, menambatkan kuda, keutamaan mati syahid, besarnya pahala jihad dan infak fi sabilillah, menjamin kehidupan para mujahid, dan menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan jihad, niscaya Anda mendapatkan penjelasan yang sangat luas, baik dalam Al-Quran, hadits, sirah, maupun kitab-kitab fiqih yang bersih.
“Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raf : 89)
Kekuatan adalah syiar Islam dalam seluruh tatanan dan syariatnya. Dengan sangat jelas Al-Qur’an menyerukan hal itu dan menyejajarkannya di dalam kitab suci-Nya dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala,
“Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al Hadid : 25)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan keduanya adalah baik”. (HR. Muslim)
Bahkan kekuatan juga menjadi syiar Islam hingga dalam doa sekalipun. Padahal doa merupakan simbol kekhusyukan dan ketundukan. Dengarlah doa yang diucapkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dirinya sendiri, yang diajarkan kepada para sahabatnya, dan diucapkannya saat bermunajat kepada Tuhannya,
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari duka dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari kungkungan hutang dan hegemoni orang lain.’ (HR. Bukhari)
Tidakkah Anda perhatikan bahwa dalam doa tersebut Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari berbagai fenomena kelemahan; kelemahan tekad karena duka dan kesedihan, kelemahan produktivitas akibat kelesuan dan kemalasan, kelemahan jiwa dan harta karena sifat pengecut dan bakhil, serta rendahnya harga diri karena hutang dan hegemoni orang lain. Apa yang Anda inginkan dari orang yang mengikuti agama ini jika bukan menjadi orang yang kuat dalam segala hal, moto hidupnya adalah kuat dalam segala hal.
Kekuatan dalam Islam didasarkan kepada tiga landasan yaitu kekuatan akidah dan iman, kekuatan persatuan dan ikatan, serta kekuatan fisik dan senjata.
Suatu jamaah belum dikatakan kuat sebelum ia memenuhi seluruh dimensi-dimensi itu. Jamaah mana pun yang menggunakan kekuatan fisik dan senjata tapi cerai-berai, goyah tatanannya, lemah ideologinya, dan padam keyakinannya pasti akan menemui kehancuran dan kebinasaan.
Kekuatan yang Al Quran perintahkan kepada orang-orang beriman adalah kekuatan pada umumnya sebagaimana dimaksudkan dalam kata benda nakirah (indefinitif) pada firman-Nya,
“Dan persiapkanlah untuk mereka itu berupa kekuatan apa saja yang kalian mampu.” (QS. Al Anfal : 60)
Tugas meraih kekuatan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah mengerahkan potensi hingga batas maksimal yang komunitas Muslim tidak berhenti dan berpangku tangan dalam mengupayakan faktor-faktor kekuatan yang masih dalam jangkauannya.
Di antara jenis kekuatan itu adalah kekuatan melempar, meliputi segala jenis lemparan dan alat yang digunakan, karena kata min pada ayat di atas berfungsi untuk menjelaskan jenis. Makna ayat,
“Dan persiapkanlah untuk mereka itu berupa kekuatan apa saja yang kalian mampu.” (QS. Al Anfal : 60), meliputi semua jenis alat yang bisa dilemparkan, semua jenis tambatan kuda, dan semua jenis kendaraan perang lainnya. Dengan demikian, baik alat maupun kendaraan pada ayat di atas meliputi segala perlengkapan perang yang dapat kita bayangkan.
Dalam Islam, keterampilan melempar memiliki peran yang sangat penting karena semua perlengkapan tidak akan berarti jika tidak disertai dengan keterampilan melempar yang baik. Karena itulah maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Muslim, dan lainnya dari Uqbah Bin Amir radhiyallahu ‘anhu,
“Saya mendengar Rasulullah berpidato di atas mimbar dengan membaca, ‘Dan persiapkanlah untuk mereka berupa kekuatan apa saja yang kalian mampu.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar.”
Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashabussunan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Lemparlah dan menungganglah, jika kalian melempar itu lebih baik daripada menunggang berkendaraan.”
Kekuatan melempar ini membutuhkan kebersihan diri, keteraturan, latihan fisik, dan latihan-latihan kemiliteran dengan berbagai bentuknya, pengenalan terhadap jenis-jenis senjata dan amunisi, cara memproduksinya, teknik penggunaan, dan pemeliharaannya. Di samping itu juga harus mengenal taktik dan strategi perang dalam berbagai kondisi dengan berbagai alat dan cara, strategi penempatan posisi dan perlengkapan-perlengkapan yang lain dengan cara yang sebaik-baiknya, mengetahui strategi inteligensi dan pengumpulan informasi, cara bersembunyi, strategi menghindar dan bertahan, cara berbalik dan lari di medan tempur, dan sebagainya.
Sesuatu yang apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengannya disebut wajib. Umat Islam harus merealisasikan semua itu agar dapat mewujudkan kekuatan sesuai dengan tuntutan Al Quran.
Demikianlah, Islam adalah agama kekuatan dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Kuat di bidang akidah, tarbiyah, pengajaran dan kebudayaan, kehidupan sosial, hukum dan perundang-undangan, hubungan luar negeri, berinteraksi dengan musuh, dan dalam segala aspek kehidupan.
Ada sesuatu yang harus kita perhatikan di sini, bahwa Imam Syahid mengaitkan antara kekuatan dengan akhlak untuk mengingatkan bahwa dalam pandangan Islam kekuatan selalu berdampingan dengan akhlak, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal ini didasarkan kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala, dalam menggambarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman,
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama muslim.” (QS. Al Fath : 29)
Tentang hizbullah (partai Allah), Ia subhanahu wa ta’ala, berfirman,
“Merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al Ma’idah : 54)
Disadur dari : http://www.hasanalbanna.com/islam-adalah-kekuatan
Berdakwah dengan Fasih dan Penuh Kelembutan
By pks kraton 17.31 Media , Tarbawi
على الداعية أن يصل إلى رتبة المُبَلِّغ وأن يسعى إلى البلاغ
“Seorang da’i harus sampai pada tingkatan penyampaian yang optimal dan selalu berusaha memberikan penyampaian yang menyentuh (balagh).”
Dalam mengemban misi dakwah, seorang da’i layaknya seorang penjual yang tengah mempromosikan barang dagangannya. Sang penjual biasanya mengemas daganganya sedemikian rupa sehingga dapat menarik hati para pembeli. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari mencari kata-kata yang eye catching, penyajian yang menarik, hingga promosi disertai bonus-bonus yang menggiurkan, tentu saja para pembeli langsung memburu dan ‘tergila-gila’ untuk mendapatkannya.
Begitu pula dalam berdakwah, bagaimana seorang da’i juga dituntut bisa mengemas dakwah ini menjadi menarik, sehingga risalah mulia ini dapat tersampaikan dengan begitu memikat, dan umat manusia pun tertarik untuk berbondong-bondong menyambut seruan kebenaran ini. Mereka menjadi terpaku dengan keindahannya, kedamaiannya dan kelembutannya, sehingga memilih Islam sebagai lentera dalam kehidupannya di dunia.
Diantara cara dalam menjadikan dakwah ini menjadi memikat adalah dengan penyampaian yang jelas, terang, tegas dan mampu menyentuh hati para mad’u (obyek dakwah). Hal ini yang dipesankan Allah Swt. kepada para nabi dan rasul melalui firman-Nya, “Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-nahl: 35)
Namun ketika dakwah itu justru direspon negatif dan kaum yang didakwahi berpaling menolak kebenaran yang dibawa, maka kondisi seperti ini merupakan akhir dari usaha yang telah disampaikan secara optimal. Sebagaimana fiman Allah tentang Nabi Shaleh As.. “Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’.” (Al-A’raf: 79)
Tuntutan kesempurnaan dalam menyampaikan isi dakwah menjadi titik tekan sendiri yang Allah sampaikan kepada para Nabi Muhammad Saw. Allah Swt. berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 67)
Imam Al-Qurtubi kemudian menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan, “Hal ini merupakan pengajaran yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw., bahwa dalam menyampaikan ilmu kepada umat agar tidak menyembunyikan sesuatu apapun dari Syariat yang telah ditetapkan”. Dengan kata lain, transfer ilmu yang disampaikan harus secara menyeluruh sebagaimana yang telah diturunkan, tidak setengah-setengah apalagi ada yang disembunyikan.
Disamping itu maksud dari kata البلاغ (penyampaian) tidak sebatas hanya memberi kabar tentang kebenaran saja, atau hanya mengumumkan tentang kebenaran itu, tapi yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana caranya agar risalah mulia yang didakwahkan ini sampai kepada seluruh umat manusia dan dapat mereka serap dengan baik.
Agar pesan dakwah itu dapat tersampaikan dengan baik ke mad’u, maka seorang da’i perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, selayaknya seorang da’i menjiwai tentang apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Karena mustahil sesuatu yang tidak lahir dari penjiwaan yang baik yang bersumber dari kesadaran di dalam hati, akan mendapat penerimaan yang baik pula dari hati.
Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memberi kenikmatan wajah yang berseri-seri kepada sesorang yang mendengar sabdaku lalu ia menyadarinya, menghafalnya, dan menyampaikannya, dan telah dekat orang yang mendalami ilmu kepada yang lebih mendalaminya. Ada tiga hal yang tidak boleh terhalang dari hati seorang muslim: ikhlas beramal karena Allah, menasehati pemimpin-pemimpin kaum Muslimin, dan komitmen dengan jamaah mereka, karena dakwah senantisa membentang di belakang mereka.” (HR. Tarmidzi)
Al Khitaby dalam penjelasan hadis ini memberikan tekanan dalam dua hal, pertama, nadharah yang memiliki makna kenikmatan dan wajah yang berseri-seri hadir karena pengaruh dari penyampaian seorang da’i terhadap mereka yang mendengarnya, maka dari itu para da’i disebut sebagai pemilik wajah yang cerah baik di dunia maupun di akhirat. Kedua, makna “menyadari” dalam konteks hadis di atas, berdefinisikan menghafal teksnya lalu mengamalkannya dalam kehidupan. Disamping itu juga memahami makna-makna hadis secara utuh baik periwayat dan matannya, serta memahami penjelasan isinya.
Kedua, berdakwah dengan memilah-milih kata yang mampu memikat, sehingga dapat membekas di hati para pendengar. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt., “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (An-Nisa: 63)
Inilah pentingnya bagi seorang da’i untuk gemar membaca. Karena dengan banyak membaca, seorang da’i menjadi kaya dengan pembendaharaan kata yang banyak, sehingga kata-kata yang terucap dari lisannya dapat mengalir indah dan membekas di setiap hati para mad’u-nya.
Kata-kata yang berbobot itu paling tidak mencakup hal berikut, yaitu berisikan kabar yang menyenangkan, menakutkan, peringatan, mengingatkan, motivasi pahala serta ancaman siksa. Dengan demikian mad’u pun akan tersentuh hatinya, gembira dengan janji yang menyenangkan, dan memiliki rasa cemas akibat kesalahan yang pernah dilakukan, sehingga memohon kepada Allah agar ia dijauhkan dari ancaman siksa neraka.
Ketiga, Al Quran telah menjabarkan pentingnya menyampaikan dakwah dengan lancar tak terabata-bata dan fasih secara lisan. Sebagaimana firman Allah Swt. yang diucapkan nabi Musa As. “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 27-28)
Nabi Musa dalam hal ini menyadari bahwa dengan perkataan yang fasih menjadi kunci dari membekasnya penyampaian dan kokohnya argumentasi. Imam Ar-Razy kemudian menjelaskan, bahwa para Ulama berbeda pendapat terkait alasan Nabi Musa As. meminta kepada Allah agar dilepaskan dari kekakuan lidahnya, pertama, agar tidak ada kesalahan fatal yang terjadi ketika penyampaian, kedua, mencegah agar jangan sampai para pendengarnya kemudian bubar, karena kekakuan dalam berbicara memberikan pengaruh kepada para pendengar sehingga tak lagi menarik perhatiannya, ketiga, meminta agar dimudahkan dalam penyampaian, karena Nabi Musa As. dalam hal ini tengah berhadapan dengan Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan, sehingga butuh jaminan kemudahan dalam berbicara. Karena kalau sudah kesulitan dalam memulai pembicaraan di awal maka akan berlanjut hingga akhir.
Keempat, yang membantu seorang da’i memiliki penyampaian yang baik dan menyentuh adalah dengan menghadirkan rekan-rekan seperjuangannya yang lain, berada disampingnya untuk saling menguatkan, sehingga dapat memberi ketenangan dan kepercayaan diri yang lebih. Ini dalam konteks personal pribadi sang da’i, namun dari sisi lain, yaitu pihak mad’u, mereka akan melihat ternyata sang da’i tidak sendirian, dan menilai dakwahnya telah memberikan dampak positif, terbukti dengan adanya para pengikut ataupun rekan yang banyak. Sehingga dapat memantapkan kepercayaan mad’u tersebut untuk kemudian mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh sang da’i.
Sebagaimana firman Allah Swt. kepada Nabi Musa As., “Allah berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudaramu” (QS. Al-Qashash: 35) dan juga dalam QS. Toha: 29-32, Allah berfirman terkait permintaa Nabi Musa As., “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku”
Imam Ar-Razy menafsirkan ayat ini dengan dua kesimpulan, pertama, Nabi Musa As. meminta teman dalam hal ini saudaranya, Nabi Harun As. karena merasa keterbatasan dirinya sebagai seorang hamba yang memiliki kekurangan, sehingga ia butuh teman yang dapat menguatkan, dan yang kedua, dikarenakan untuk mendakwahi agama ini dibutuhkan kekuatan do’a, sehingga ia pun memohon kepada Allah Swt. agar ia diteguhkan.
Kelima, seorang da’i hendaknya memanfaatkan segala fasilitas yang ada sebagai wasilah untuk memudahkan penjelasan risalah mulia ini kepada umat. Di era modern seperti sekarang, para da’i dituntut untuk melek teknologi, sehingga dakwah ini ditampilkan secara menarik, tidak ketinggalan zaman dan berjalan sesuai dengan sarana modern yang ada, seperti dengan internet, film, nasyid, novel, slide power point, bisa pula melalui agenda rihlah melaui tadabur alam, out bound, games dan sarana menarik lainnya.
Al Quran sendiri telah menceritakan bagaimana dakwah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. dengan menggunakan perantara alam, untuk kemudian memberikan pelajaran kepada kaumnya agar kemudian menyembah Allah Swt.
Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya: “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’aam: 76-79)
Keenam, untuk memiliki penyampaian dakwah yang optimal, seorang da’i harus kreatif dan cerdas melihat peluang dalam setiap waktu dan kondisi. Bisa jadi obyek dakwah yang ia seru kepada jalan kebaikan, ternyata tak biasa menerima secara spontan, tapi harus pendekatan perlahan. Ada yang tak bisa didekati pada waktu siang karena sibuk, maka cerdaslah untuk memilih waktu lain. Ada yang ketika sehat begitu keras untuk menerima kebenaran, dekatilah ia di waktu sakit, mungkin hatinya bisa lebih luluh pada saat itu. Maka berseni dan cerdaslah melihat peluang dalam menyampaikan dakwah.
Sebagaimana firman Allah Swt. melalui lisan nabi Nuh As. yang termaktub dalam QS. Nuh 5-10. Terkait ayat itu Ibnu Katsir kemudian mengatakan, “kreatiflah dalam berdakwah, agar misi menyampaikan risalah mulia ini berakhir dengan kesuksesan.”
Ketujuh, agar pesan dakwah tersampaikan dengan baik, maka seorang da’i selayaknya menyampaikannya dengan penuh kelembutan (layyinan), tidak dengan cara yang keras, memaksa, apalagi kasar. Dekati mad’u dengan cara yang baik, panggil ia dengan nama yang ia sukai, perlakukan dengan penuh sopan, buat ia terpikat, sehingga apa yang disampaikan pun dapat menyentuh hatinya.
Allah Swt. telah memerintahkan Nabi Musa As. mendakwahi Fir’aun dengan cara yang lembut, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran, “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha: 43-44)
Dalam ayat lain Allah Swt. juga memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk berdakwah dengan penuh hikmah, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl: 125)
Wallahu al Musta’an
Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ, Manshurah, Mesir.
Sumber : http://al-intima.com/qawaidud-dawah/berdakwah-dengan-fasih-dan-penuh-kelembutan
Pesanku Kepada Para Murabbi
By pks kraton 01.10 Tarbawi
| DR. Jumah Amin Abdul Aziz |
Semoga bisa kita pahami, selanjutnya bisa kita realisasikan. Kita tidak ingin bahasan ini hanya ada dalam tataran ucapan. Kita takut firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan (Ash Shaff, 61 : 2 – 3)
Ketahuilah, kita hidup dibayangi makar jahat dan perdebatan yang berkepanjangan. Musuh-musuh Islam melancarkan itu untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Kita masuk ke dalam peperangan yang dipenuhi dengan berbagai macam strategi. Kita tidak akan pernah mampu melawan makar mereka, kecuali dengan meminta kepada Allah dengan mengatakan, “Ya Allah, aku mengadukan kelemahanku kepada-Mu….”
Coba kita renungkan kembali ucapan Bani Israil kepada Nabi Musa a.s. ini:
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. (Q.S. Asy Syu’ara, 26 : 61)
Nabi Musa a.s. dengan penuh tsiqah dan yakin akan pertolongan Allah (ats-tsiqatul muthlaq billah) berkata kepada kaumnya:
قَالَ كَلاَّ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy Syu’ara, 26 : 62)
Dan yang terjadi selanjutnya adalah:
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar
وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ اْلآخَرِينَ
Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.
وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ
Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya
ثُمَّ أَغْرَقْنَا اْلآخَرِينَ
Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman
وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (Asy Syu’ara, 26 : 63 – 68)
Lihatlah sikap seorang mukmin ketika datang ancaman dari berbagai penjuru. Tidak seharusnya seperti umat Nabi Musa. Umat Nabi Musa sepertinya terhinggapi amnesia. Mereka melupakan janji Allah. Bahkan bersikap seolah apa-apa yang dijanjikan Allah hanya tipuan. Berbeda dengan mereka yang tertarbiyah dalam keimanan dan mempunyai tanggung jawab risalah, saat melihat musuh di hadapan, mereka akan berkata, “Inilah yang Allah dan rasulNya janjikan.”
Jadi tarbiyah bukan sekedar tsaqafah, tapi mempersiapkan diri untuk menahan makar dari barat dan timur. Lihatlah keteguhan Rasulullah saw. saat menghadapi berbagai tipu daya kafir Quraisy. “Demi Allah, jika mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya tidak akan pernah menggoyahkanku, sampai Allah memenangkan dakwah ini atau aku hancur bersamanya.”
Sekali lagi, itulah tarbiyah. Untuk menghadapi makar musuh sangat diperlukan ketegaran, sebagaimana kisah mantan tukang sihir yang hendak dihukum Fir’aun.
فَأَلْقَى مُوسَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ
Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud kepada Allah
قَالُوا ءَامَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam
رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ
yaitu: Tuhan Musa dan Harun
قَالَ ءَامَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ ءَاذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ
Firaun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.”
قَالُوا لاَ ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ
Mereka berkata: “Tidak ada kemudaratan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami
إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah . orang-orang yang pertama-tama beriman
(As-Syu’ara: 45-51)
Tarbiyah juga memberikan nilai yang dalam. Ketika nilai-nilai rabbaniyah telah menshibghah, maka apa pun yang terjadi, kalian tidak akan terpengaruh. Bahkan, semisal ancaman penghilangan nyawa sekalipun seperti yang diterima mantan ahli sihir Fir’aun.
Seperti itulah tarbiyah membentuk rijal. Tentu saja untuk sampai pada rijal yang shiddiq ada ujian. Iman mereka itu teruji dengan ujian.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (Al Baqarah, 2 : 214)
Ada tiga hal manfaat ujian dan tarbiyah dengan kesulitan, antara lain:
1. Untuk menyeleksi yang baik dari yang buruk (Ali imran, 3 : 179)
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar” (Ali Imran, 3 : 179)
Ujian datang untuk menyeleksi kualitas orang-orang yang beriman dan menghasilkan kepemipinan yang tangguh.
2. Untuk memilih orang-orang beriman dan menghinakan orang-orang kafir
وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir (Ali Imran, 3 : 141)
3. Allah memilih para syuhada
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim (Ali Imran, 3 : 140)
Yang memilih adalah Allah, bukan kalian. Ingaklah oleh kalian kisah Khalid bin Walid ketika di ambang kematian padahal bekas luka dari medan perang menghiasi sekujur tubuhnya. Ia mati normal. Di tempat tidurnya sendiri. “Saya mati seperti unta, celakalah orang-orang penakut.”
Seorang mukmin sejati tidak takut mati, karena kematian akan dating kapan pun di mana pun. Ketika Sayyid Qutb dieksekusi, kami shalat, salah seorang akh yang suaranya merdu membaca surat Ghafir (Mu’min).
وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ . تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ . لاَ جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلاَ فِي اْلآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ . فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui, padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Al Mu’min/Ghafir, 40 : 41 – 44)
Ketika kami dengar beliau akan dieksekusi, mata air meleleh, sedih, tangis. Semoga beliau termasuk orang-orang shalih.
Saya bertanya, kalau beliau tidak mati di tiang gantungan, apakah beliau juga akan mati? Tentu. Karena, ajal sudah habis. Lalu apa arti syahadah? Artinya, Allah mengganti dari kematian yang wajar untuk mengangkat derajatnya.
Selain itu ada yang harus diperhatikan oleh murabbi, yaitu:
1. Manhajus Sadid (manhaj yang benar)
Hendaknya bekerja sesuai dengan manhaj secara kontinu, tanpa lelah. Bahkan, ketika bekerja ia merasa kurang dan tidak merasa sudah baik, maka ia selalu merasa perlu untuk menyempurnakan pekerjaannya.
2. Nafasnya Panjang
Karena perang itu lama, perlu sabar. Kesabaran yang bagus, yang tidak ada kesedihan, yang membuat kalian ridha. “Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Setiap urusan dianggap baik dan itu tidak akan ada kecuali dalam diri orang beriman. Jika mendapat kenikmatan, ia bersyukur dan itu adalah lebih baik baginya. Jika mendapat kesulitan, ia bersabar dan itu adalah lebih baik baginya.” (HR Muslim)
Sabar memberikan nafas panjang. Setelah sabar, membekali diri dengan pemahaman agama, pemahaman politik, pemahaman agama. Pemahaman perlu indhibat, perlu harakah. Tahu kapan harus bergerak.
Seseorang harus mempunyai ilmu untuk mengetahui rahasia hidup, harus punya ilmu untuk mengetahui posisi masyarakat. Itulah kepribadian yang sempurna.
Oleh karena itu Allah berfirman kepada Rasulullah saw., “Ia mengajarkan Kitab dan Hikmah…” Walaupun ada yang menafsirkan hikmah adalah sunnah, kita ikuti pendapat lain bahwa hikmah adalah hikmah ilmu.
Oleh karena itu Allah berfirman kepada Rasulullah saw., “Ia mengajarkan Kitab dan Hikmah…” Walaupun ada yang menafsirkan hikmah adalah sunnah, kita ikuti pendapat lain bahwa hikmah adalah hikmah ilmu.
Ketahuilah oleh kalian sifat-sifat umum murabbi, yaitu:
1. Ikhlas dalam amal
Semua gerakannya untuk Allah. Saya tidak tahu apakan saya sampaikan ini kepada kalian atau yang lain, hadits riwayat Abu Daud, bahwa Rasulullah saw. setiap kali keluar toilet baca istighfar. Kenapa? Karena, di toilet beliau terhalangi untuk dzikir kepada Allah. Begitulah seharusnya seorang murabbi, selalu berzikir kepada Allah. Semua aktivitas hidupnya lillahi ta’ala.
2. Benar dalam manhaj dan percaya benar dalam mengikuti manhaj
Para ulama merasa yakin bahwa mereka berada dalam manhaj yang benar. Manhaj ini bersambung sampai kepada manhaj Rasulullah. Begitu juga kita dalam dakwah ini. Kalian tidak ikut kepada manusia, namun fikrahnya. Kita menghargai orang, bukan mengkultuskan. Beda antara taqdir dan taqdis. Kalau kita berkomitmen, itu artinya berkomitmen kepada manhaj karena manhaj itu benar. Itu seua harus jelas bagi murabbi. Sebab, kalau jelas bagai matahari di siang bolong, murabbi bisa mentransfernya kepada orang lain. Ia punya hujjah yang kuat untuk disampaikan, bahkan kepada orang yang mendebat dan bertanya kepadanya.
3. Melek akan kondisi masyarakat
Kita hidup di masyarakat yang plural. Ada petani, pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, buruh, dan lain-lain. Karena itu, seorang murabbi harus memahami kondisi masyarakat. Surat Al-Kahfi ayat 19 mengingatkan kita tentang arti bersabar, yaitu sampai memahami kondisi masyarakat. Jangan terburu-buru. Jangan emosi.
4. Mengetahui kondisi manusia dan berhubungan dengan mereka
Mencari ilmu, pelajari masyarakat, tidak tergesa-gesa. Itu kata kunci dalam dakwah. Dalam risalahnya, Imam Al Banna mengatakan, “Barangsiapa ingin memetik hasil sebelum masa panen, hendaknya cari jalan lain, bukan jalan Ikhwan.”
Umar berkata:
اللهم إني أعوذ بك من جلد الفاجر وعجز التقي
Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekerasan orang fajir dan kelemahan orang yang bertakwa
Hendaknya murabbi meninggalkan hal-hal berikut ini:
1. Emosi jauh dari sentimen pribadi. Cinta dan benci karena Allah, bukan karena sentimen pribadi.
2. Jauh dari tindakan emosional. Keras suaranya seolah ia komandan perang saat berdebat dengan orang lain. Kalau kalian emosional begini, bagaimana mereka akan mendengar kalian.
3. Senantiasa waspada dengan kondisi. Berhati-hati untuk meninggalkan realita yang dihadapinya. Kami pernah hendak memberangkatkan pemuda ke Afghanistan. Maka, yang pertama yang harus mereka pelajari adalah Fiqih Hanafi karena masyarakat di sana bermazhab Hanafi.
Saya pernah diundang ke suatu daerah dan saat itu saya tidak memakai peci. Ketika hendak shalat seseorang membuka pecinya lalu mengatakan, kalau tidak keberatan pakailah ini. Saya ucapkan jazakallah, lalu bertanya kepadanya, kenapa kamu beri saya peci, namun kamu sendiri shalat dengan telanjang kepala?
Imam Al-Banna mengatakan, “Setiap pertanyaan yang tidak ada tendensi amalnya, maka melakukannya adalah pembebanan yang dilarang agama.” Sifat ini sangat penting. Jika telah memenuhi sifat ini, maka kalian akan berpikir pada yang lebih detail dan mendalam. Inilah tarbiyah yang membentuk ideology. Tarbiyah aqlul muslim. Seorang muslim harus menyusun terlebih dahulu akalnya pada tingkat rabbani.
Jika seorang ikhwah bersikap keras akan berakibat fatal, maka seharus dia tidak mengucapkan satu patah kata pun. Lihatlah apa yang dicontohkan seorang sahabat yang ingin menyampaikan saran kepada Rasulullah saw. Dia bertanya terlebih dahulu, apakah ini wahyu yang diturunkan Allah atau sekedar inisiatif dari Rasulullah saw. Nabi saw. mengatakan, itu inisiatif dirinya. Maka, sahabat itu menyampaikan idenya.
Seorang qiyadah pun tidak boleh memotong pendapat yang dilontarkan kepadanya karena itu akanmemutus ide yang akan disampaikan. Jika hal itu dilakukan, akan melemahkan konsep tarbiyah.
Imam mazhab pernah mengatakan, pendapat saya mungkin benar tapi bisa jadi keliru; dan pendapat lain mungkin keliru tapi bisa jadi benar.
Kalian sebagai murabbi harus senantiasa memasang telinga untuk mendengar, menyiapkan dada yang lapang, dan wajah yang penuh senyum. Begitulah Nabi kalian, Muhammad saw. Beliau senantiasa berwajah senyum, kecuali jika melihat ada penyimpangan yang berhubungan dengan syariat. Beliau paling dahulu marah melalui perubahan wajahnya.
Seorang murabbi harus senantiasa memberikan dirinya dalam sikap tsiqah. Jangan mencoba mengurangi keyakinannya.
Sisi lain yang kita bahas adalah senantiasa bersikap tawadhu, senantiasa mendengar, syura, menghormati pemikiran madh’u sekalipun dalam memberikan kritik atau masukan. Senantiasa berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, sehingga mereka dapat memberikan ide. Karena, dengan demikian kalian sedang mentarbiyah mereka tentang syura dan menyatukan pemahaman serta sikap mereka. Seperti yang kita pahami sebagaimana Rasulullah saw. menyatukan perbedaan pendapat antara Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Saya katakan tidak dipungkiri bahwa dengan kalian berpartisipasi, akan memberikan rasa gembira pada mereka. Karena itu, jangan menghukumi mereka, jangan merendahkan, dan jangan memotong pembicaraan mereka.
Saya ingin menutup pembicaraan dengan beberapa point penting:
1. Langkah awal yang penting adalah musyarakah wijdaniyah, bahwa kalian memiliki peran di tengah masyarakat. Karena masyair wijdaniyah dapat menjadikan akal menerima alasan seperti kisah Nabi Sulaiman yang sedang melakukan inspeksi dan tidak mendapatkan Burung Hud-Hud. Ketika Nabi Sulaiman kehilangan Burung Hud-Hud, maka yang dilakukan adalah menggunakan musyarakah wijdaniyah.
2. Memberikan perasaan untuk senantiasa berada dalam pembicaraan atau dialog, dan meninggalkan debat yang tiada guna. Ingalah sabda Rasulullah ini: “Aku adalah pemimpin seseorang yang meninggalkan debat meskipun dia benar.”
3. Memberikan perasaan penerimaan pada pandangan dan keputusan muassasi karena ini akan memberikan pengaruh pada kekuatan jamaah.
Pada kesempatan ini pula saya ingin mengingatkan kembali 10 Wasiat Imam Al-Banna:
- Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaannya.
- Baca, telaah, dan dengarkan Al-Qur’an atau dzikirlah kepada Allah; dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.
- Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.
- Jangan memperbanyak perdebatan, sebab hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.
- Jangan banyak tertawa, sebab hati yang tenang dan tentram adalah yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir).
- Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh dan terus-menerus.
- Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti orang yag mendengarkan.
- Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun, dan jangan berbicara kecuali yang baik.
- Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).
- Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu; dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan, maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan.
Selanjutnya, wasiat saya kepada kalian: jagalah ukhuwah, jagalah uhkhuwah karena dengan itulah kita dapattsabat dan memiliki kekuatan. Hal inilah yang senantiasa diwasiatkan dan disampaikan pada hadits tsulasa. Dakwah akan kokoh dengan ukhuwah dan keteguhan kita pada manhaj. Karena itu, hal terpenting setelah keimanan yang harus kalian perhatikan adalah ukhuwah.
Terakhir saya mengundang kalian untuk berkunjung ke Mesir. Setelah Allah membuka Mesir dengan revolusi di awal tahun ini, setiap hari orang-orang berdatangan kepada kami dan ini membuat musuh-musuh bertambah takut.
Saya tutup muhadharah ini dengan doa rabithah:
اللهم أنك تعلم أن هذه القلوب قد اجتمعت على محبتك ، و التقت على طاعتك ، وتوحدت على دعوتك ، وتعاهدت على نصرة شريعتك، فوفق اللهم رابطتها ، وأدم ودها ، واهدها سبلها ، و املأها بنورك الذي لا يخبوا ، و اشرح صدورها بفيض الايمان بك ، وجميل التوكل عليك، وأحيها بمعرفتك، وأمتها على الشهادة في سبيلك ، انك نعم المولى ونعم النصير
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul atas dasar kecintaan apdaMu, bertemu atas dasar ketaatan padaMu, bersatu dalam rangka menyeru di jalanMu, dan berjanji setia untuk membela syariatMu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalan-jalannya, dan penuhilah ia dengan cahayaMu yang tidak pernah padam, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepadaMu, dan matikanlah ia dalam keadaan syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Dan semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada junjungan kami, Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.







